PESAN JURNAL KLIK SINI
....................................................................................................................................
Tampilkan postingan dengan label Penulis : Agung Sutarto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulis : Agung Sutarto. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juli 2012

ANALISA PERMINTAAN PARKIR DI STASIUN PONCOL DAN TAWANG SEMARANG


Oleh : Agung Sutarto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102 E-mail : sutarto_agung@yahoo.co.id

Abstrak : Kegiatan di stasiun kereta api akan menghasilkan perjalanan yang membutuhkan ruang parkir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik permintaan perbedaan antara stasiun Poncol dan Tawang. Ciri ini pengaruh harga tiket ke atraksi perjalanan, model tarikan perjalanan, kebutuhan transportasi mode dan kebutuhan ruang parkir. Kelas ekonomi dan transportasi barang disajikan di Poncol.Bisnis dan kelas eksekutif disajikan di Tawang stastion. Korelasi antara daya tarik perjalanan dan jumlah tiket dapat digambarkan dalam persamaan berikut: Ytrip atraksi = 120,51 + 1,0602 Xticket untuk stasiun Poncol, dan: Ytrip atraksi = 175,21 + 1,3212 Xticket untuk stasiun Tawang. Korelasi antara daya tarik dan moda transportasi dapat digambarkan dalam persamaan berikut: Ytarikan = 7,3063 + 3271 Xmobil pribadi + 2.464 Xbecak + 2.406 Xsepeda motor + 2.448 Xpick-up untuk stasiun Poncol, dan: Ytarikan = 4467 + 3567 Xmobil pribadi + 2.517 Xsepeda motor, untuk stasiun Tawang. Dapat disimpulkan bahwa ruang parkir permintaan penumpang masing-masing 1,48 m² di stasiun Poncol dan 7,3 m² di stasiun Tawang. Perjalanan atraksi per tiket di stasiun Poncol 1,0602 dan 1,3212 di stasiun Tawang.Transportasi modus yang dominan digunakan di stasiun Poncol adalah sepeda motor, sedangkan di stasiun Tawang adalah mobil pribadi dan sepeda motor. mobil pribadi sering digunakan karena fasilitas transportasi publik tidak dapat mendukung kebutuhan penumpang kereta. Ada variabel kendaraan pick-up di stasiun Poncol Poncol karena melayani penumpang dan barang. SRP yang digunakan dalam stasiun Poncol untuk penumpang mobil 65 SRP, sepeda motor 282 SRP, pick-up 52 SRP, dan roda tiga (becak) 64 SRP. SRP yang digunakan dalam stasiun Tawang untuk mobil penumpang 235 SRP, sepeda motor 350 SRP dan roda tiga (becak) 13 SRP

Kata kunci: bangkitan perjalanan, kebutuhan parkir, stasiun poncol, stasiun tawang

Abstract : Activities in a railway station will generate trips which need parking space. This research is aimed to analyze the difference demand characteristics between Poncol and Tawang stations. These characteristics are the effect of ticket price to trip attraction, trip attraction model, transportation mode demand and parking space demand. The economic class and transportation of goods are served in Poncol. Bussiness and executive class is served in Tawang stastion. The correlation between trip attraction and the number of ticket can be described in the following equation : Ytrip attraction = 120,51 + 1,0602 Xticket for Poncol station, and : Ytrip attraction = 175,21 + 1,3212 Xticket for Tawang station. Correlation between trip attraction and transportation mode can be described in the following equation : Ytripattr = 7,3063 + 3,271 Xprivate car + 2,464 Xbecak + 2,406 Xmotor cycle + 2,448 Xpick up for Poncol, and : Ytrip attraction = 4,467 + 3,567 Xprivate car + 2,517 Xmotorcycle, for Tawang station. It can be concluded that the parking space demand for each passenger is 1,48 m2 in Poncol station and 7,3 m2 in Tawang station. Trips attraction per ticket is 1,0602 in Poncol station and 1,3212 in Tawang station. Transportation mode which is dominantly used in Poncol station is motorcycle, while in Tawang station is private car and motorcycle. Private car is often used because the public transport facility could not support the train passenger’s needs. There are variable pick-up vehicles in Poncol because Poncol station served passengers and goods. SRP which are used in Poncol station for passenger car 65 SRP, motorcycle 282 SRP, pick-up 52 SRP, and tricycle (becak) 64 SRP. SRP which are used in Tawang station for passenger car 235 SRP, motor cycle 350 SRP and tricycle (becak) 13 SRP.

Keywords: trips attraction, parking demand, poncol station, tawang station .

Selasa, 17 Juli 2012

PERANAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KERJA DALAM PENINGKATAN KINERJA PROYEK KONSTRUKSI


Oleh : Agung Sutarto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229

Abstrak : Sistem manajemen keselamatan kerja sangat penting dalam dunia industri untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan nyaman dalam lingkungan kerja. Sistem ini akan membantu meningkatkan hubungan kerja antara pengusaha dan pekerja serta untuk memudahkan selama proses produksi berjalan. Penelitian ini didasarkan atas analisis tentang penerapan sistem manajemen keselamatan kerja di proyek konstruksi, beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya dan juga cara untuk peningkatan proyek. Responden dari penelitian ini adalah kontraktor yang ada di kota Semarang. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa sebanyak 88,6% dari total responden telah menerapkan sistem manajemen keselamatan kerja di proyeknya selama proyek berlangsung. Salah satu faktor dalam aplikasi sistem manajemen keselamatan kerja di proyek konstruksi, menjadi tiga faktor yaitu peran manajemen, kondisi dan lingkungan kerja dan juga kesadaran dan kualitas pekerja, dalam saat waktu pelaksanaan atau dengan efek yang signifikan terhadap manfaat proyek yang diukur dalam parameter efisiensi, nilai efisiensi, peningkatan dari hasil kualitas kerja dan juga peningkatan aktivitas pekerjaan, serta sebagian faktor yang dominan terhadap efek dari proyek penampilan kosntruksi adalah kondisi dan lingkungan kerja.

Kata kunci : sistem manajemen keselamatan kerja, peran manajemen, kondisi dan lingkungan kerja, kesadaran dan kualitas pekerja, kinerja proyek konstruksi

Abstract : The system of work safety management is a very urgent to construction industry in order to create safety and peaceful atmosphere in a work area. This will help to improve the relationship between employees and their employer and will smooth the production process to be applied. This research was carried out to analyze how far the application of the system of work safety management in construction project, any kind of factors influencing it and also how its bearing with improvement of project performance. Responder in this research is the contractor which exist in Semarang. The result of research obtained express that 88,6% responder have applied the system of work safety management in each project of construction done. As for factors in application of the system of work safety management in project of divisible construction in three factor that are Management Role, Condition and Environment Work and also Awareness and Worker Quality, at a time or with having an effect on significant to Performance of Project of Construction measured in parameter of time efficiency, expense efficiency, improvement of quality result of work and also the working activity improvement. While by partial most dominant factor have an effect on to Performance of Construction Project is Condition and Environment Work.

Key-words : the system of work safety management, management role, condition and environment work, awareness and worker quality, performance of construction project.

Senin, 16 Juli 2012

TINJAUAN ASPEK TATA RUANG PERKEMBANGAN KAWASAN TAWANG MAS KOTA SEMARANG


Oleh : Agung Sutarto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229, Telp. 024-8508102

Abstrak: Efisiensi pemanfaatan tata ruang sebagai tempat berlangsungnya kegiatan-kegiatan ekonomi dan sosial budaya, maka kawasan perkotaan perlu dikelola secara optimal melalui penataan ruang. Pengembangan kawasan Tawang Mas terjadi karena adanya pembangunan kota Semarang yang mempertimbangkan rencana tata guna lahan. Tawang Mas pada tahun 1980 an merupakan daerah tambak dan rawa-rawa yang semakin lama mengalami penurunan lingkungan akibat bergeser dan majunya garis pantai sehingga semakin landainya kemiringan sungai dan semakin tingginya tingkat sedimentasi yang sering mengakibatkan banjir. Sebagai kawasan yang berkembang, untuk mengendalikan Tata Ruang Kota maka Pemerintah perlu membuat RDTRK (Rencana Detail Tata Ruang Kota) Semarang tahun 2000 – 2010. Adapun Kawasan Tawang Mas masuk dalam Bagian Wilayah Kota (BWK) III. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi perkembangan kawasan Tawang Mas ditinjau dari aspek tata ruang perkotaan Semarang. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai penggunaan lahan di kawasan Tawang Mas secara keseluruhan yang diperoleh dari beberapa pendapat penduduk setempat yang berada di kawasan Tawang Mas sudah efektif. Hal ini dikarenakan Dinas Tata Kota Semarang telah bekerjasama dengan pihak swasta untuk mengembangkan lokasi kawasan Tawang Mas dalam hal pengembangan lahan tersebut. Penduduk sekitar yang merespon pengembangan lahan kawasan Tawang Mas sangat mendukung agar kawasan Tawang Mas menjadi lokasi strategis dalam pemanfaatan lahan di kawasan tersebut. Selain itu pengembangan lahan di kawasan tersebut diharapkan juga dapat mengatasi masalah tentang perubahan tata guna lahan dan meningkatnya tinggi muka air laut yang sering mengakibatkan terjadinya banjir di kawasan Tawang Mas

Kata Kunci: perkembangan kawasan, pemanfaatan lahan, aspek tata ruang

Abstract: For the efficiency of urban land use of the area where the economical and social-cultural activities take place, the urban area needs to be managed optimally through the urban planning. The development of Tawang Mas area is enabled by the development of Semarang city, in consideration of land use. In 1980, Tawang Mas was a fish pond and swamp area suffering from environmental degradation, due to the shifting and moving forward of the coastal line, causing the increase of river slope and the increase of high sediment level resulting in floods. It is important for the Government to prepare Detailed Urban Planology (RDTRK = Rencana Detil Tata Ruang Kota) year 2000 – 2010 to control the urban planning of Semarang as the developing area. Tawang Mas area is included in Urban Area Part III. The objective of this research is to evaluated the development of Tawang Mas area in view of the Semarang urban planning aspect. It is shown from the research which is based on the inhabitants’ opinion, that the land use in Tawang Mas is in overall had already been effective. This is because Dinas Tata Kota Semarang has been working in cooperation with the private sector to develop the Tawang Mas area. The inhabitants of Tawang Mas have also been eager to support the land use development of their area. Besides developing the area, it is also expected that the problems of land use change and the increase of high sea water level causing frequent floods in Tawang Mas area, can be solved.

Keywords: area development, land use, aspect of planology

ANALISIS KAPASITAS TAMPUNGAN SISTEM DRAINASE KALI BERINGIN UNTUK PENGENDALIAN BANJIR WILAYAH DRAINASE SEMARANG BARAT


Oleh : Sucipto dan Agung Sutarto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229

Abstrak: Banjir yang terjadi di wilayah Semarang Barat khususnya pada sistem drainase Kali Beringin, salah satunya disebabkan oleh alur sungai tidak mampu menampung volume aliran. Luapan air mengakibatkan banjir dan genangan di wilayah Mangkang Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dimensi penampang saluran drainase Kali Beringin yang dapat menampung dan mengalirkan debit banjir yang terjadi. Lokasi penelitian terletak pada Sub Sistem Kali Beringin dengan luas DAS 32,5 km2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saluran drainase yang ada tidak mampu menampung debit air yang ada. Hasil analisis debit banjir menggunakan metode rasional digunakan sebagai debit banjir rencana, yaitu 158,062 m3/detik. Hasil analisis dimensi penampang saluran terdapat beberapa wilayah yang harus dinormalisasi karena debit tampungan (Q) yang ada lebih kecil dari debit banjir rencana. Sehingga diperlukan usaha normalisasi. Normalisasi saluran dilakukan dengan memperbesar dimensi penampang saluran sesuai hasil analisis, sehingga diharapkan dapat menampung volume air banjir.

Kata Kunci: normalisasi, sistem drainase

Abstract: Floods that happened in region of West Semarang, especially at Beringin canal drainage system are caused by the river path unable to accommodate stream volume. Water overflowing are result floods and pond in region around Mangkang Semarang. This research have target to analyze surface dimension of Beringin canal which able to accommodate and conduct floods stream that happened. The research location is laying in Beringin canal systems broadly 32.5 km2. Research result indicates that existing drainage channel unable to accommodate debit of water. The analysis result of charge floods with use that rational method as design highflow discharge that is 158.062 m3/s. Analysis result of channel surface dimension there are some normalization regions which must because accommodation charge (existing Q) smaller than plan floods charge. So that needed by the effort normalization. Channel normalization done by enlarging channel surface dimension according to analysis result is till expected can accommodate volume floods water.

Keywords: normalization, drainage systems