PESAN JURNAL KLIK SINI
....................................................................................................................................
Tampilkan postingan dengan label Penulis : Moch Fathoni Setiawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulis : Moch Fathoni Setiawan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juli 2012

STUDI PERILAKU PEJALAN KAKI PADA TROTOAR (PEDESTRIAN WAYS) DI SURAKARTA DITINJAU DARI KENYAMANAN IKLIM


Oleh : Moch Fathoni Setiawan
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229, email: mfath90@gmail.com

Abstrak : Trotoar tentunya harus dapat mewadahi kebutuhan pejalan kaki dan berfungsi secara maksimal guna mendukung aktivitas atau kegiatan di suatu kota. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang perkembangan dan efektivitas segala kegiatan (ekonomi, pemerintahan dan jasa) di kota. Perilaku pejalan kaki dalam studi ini ditunjukkan dalam bentuk persepsi masyarakat dalam memanfaatkan trotoar dalam kehidupan sehari-hari, ditinjau dari kenyamanan Iklim. Obyek Studi dalam penelitian ini adalah Penggal Jalan Slamet Riyadi Surakarta, meliputi jalur trotoar di kawasan sekitar gladak, yaitu hotel Novotel, Mall, Perkantoran, Musium, dan pertokoan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei yaitu pengamatan secara langsung di lapangan. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel fungsional yaitu antara lain umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal, dan tujuan menggunakan jalur trotoar. Variabel struktural yaitu pendapat masyarakat tentang kenyamanan pejalan kaki terhadap pemanfaatan trotoar di jalan protokol Kota Surakarta (studi kasus jalan slamet riyadi Surakarta) yang dalam aplikasinya dibatasi hanya ditinjau dari kenyamanan iklim. Dalam penelitian ini jumlah volume populasi pejalan kaki adalah 1036 orang, dan dapat diambil sampel sebagai parameter perkiraan sebesar 10% dari jumlah populasi yang diperoleh dari hasil perhitungan peneliti. Maka besar sampel dalam penelitian ini ditetapkan berjumlah 100 orang pejalan kaki. Secara keseluruhan pendapat pejalan kaki terhadap faktor iklim menunjukkan pendapat yang CUKUP BAIK.

Kata kunci: pejalan kaki, trotoar, persepsi masyarakat, kenyamanan iklim.

Abstract : Pedestrian way certainly should be able to accommodate the needs of pedestrians and function optimally in order to support the activity or activities in a city. It is intended to support the development and effectiveness of all activities (economic, governance and services) in the city. Pedestrian behavior in this study are shown in the form of public perception in the use of sidewalks in everyday life, viewed from the comfort of Climate. Object of study in this research is Slamet Riyadi Street Chop Surakarta, including lane pavement in the area around gladak, namely the Novotel hotel, Mall, Office, Museum, and shops. The method used in this study is a survey of direct observations in the field. In this study there are two functional variables which include age, educational level, occupation, residence, and the purpose of using the sidewalk path. Structural variables which public opinion about the comfort of pedestrians to use sidewalks on main streets Surakarta (case study Slamet Riyadi road Surakarta) which in its application is limited only in terms of climate comfort. In this study the volume of pedestrian population is 1036 people, and the sample can be taken as a parameter estimate of 10% of the total population obtained from the calculation of researchers. Then the sample size in this study amounted to 100 people assigned pedestrians. Overall opinion of pedestrians against climatic factors indicates that GOOD ENOUGH opinion.

Keywords: pedestrians, sidewalks, public perception, climate comfort.


preview/download

TINGKAT KEBISINGAN PADA PERUMAHAN DI PERKOTAAN


Oleh : Moch Fathoni Setiawan
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : Permasalahan yang saat ini menjadi isu di lingkungan perumahan adalah peningkatan pencemaran udara dan kebisingan. Sumber kebisingan yang dominan di lingkungan perumahan adalah berasal dari lalu-lintas kendaraan bermotor. Jumlah kendaraan bermotor di Indonesia semakin tahun semakin meningkat, akibatnya lingkungan perumahan di Perkotaan menjadi bising. Kebisingan sendiri terkait dengan kepadatan lalulintas. Kondisi ini ditambah dengan penyediaan sarana jalan yang tidak memadai menjadikan lingkungan perumahan menjadi jalan pintas dari dan ke jalan umum. Hal ini semakin menimbulkan kebisingan di lingkungan perumahan. Penelitian yang dilakukan di Kota Yogyakarta dan DKI Jakarta memperlihatkan bahwa tingkat kebisingan yang terjadi di lingkungan perumahan telah berada diatas ambang baku mutu yang disyaratkan. Kebisingan yang terjadi di lingkungan perumahan sudah saatnya memerlukan penanganan yang serius, mengingat pengaruh buruk dari kebisingan terhadap kesehatan manusia pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas hidup masyarakat. Berbagai penanganan kebisingan telah banyak dilakukan terutama terkait pada 3 (tiga) hal, yaitu pada sumber suara, media suara dan penerima. Penanganan secara arsitektural lebih tepat ditujukan pada penanganan media perambatan suara. Pengolahan ‘jalan’ bunyi yang dalam hal ini bertujuan untuk mengurangi kebisingan yang diterima oleh penerima dapat dilakukan dengan cara: Pertama, memperpanjang jalannya media perambatan dengan cara menjauhkan antara sumber suara dengan penerimanya. Kedua, memberi penghalang antara sumber dengan penerima, penghalang dapat berupa dinding penghalang, barier tanaman, maupun fasade bangunan itu sendiri. Penanganan secara non Arsitektural dapat dilakukan dengan cara membuat kendaraan bermotor yang lewat lingkungan perumahan menurunkan kecepatannya sampai kurang lebih 20 km/jam.

Kata kunci: kebisingan, perumahan, lalu-lintas

Abstract : The problems that currently an issue in the neighborhood are increasing air pollution and noise. The dominant source of noise in the neighborhood is derived from motor vehicle traffic. The number of motor vehicles in Indonesia has become the year has increased, resulting in urban neighborhoods become noisy. Own noise associated with traffic density. This condition coupled with the provision of inadequate roads make the neighborhood becomes a shortcut to and from public roads. This further raises the noise in the neighborhood. Research conducted in the city of Yogyakarta and Jakarta showed that the level of noise that occurs in the neighborhood has been above the threshold required quality standard. Noise that occurs in the neighborhood it was time to require the handling of serious, considering the adverse effect of noise on human health will ultimately affect the quality of life. Various handling noise have been carried out primarily related to the 3 (three) things, namely the source of the noise, media noise and receiver. Handling is more precise architectural aimed at handling the sound propagation medium. Processing of 'street' sound which in this case aims to reduce noise received by the receiver can be done in a way: First, extending the course of propagation media in a way to distance between the sound source with the recipient. Second, provide a barrier between the source and receiver, the barrier can be a barrier wall, barrier crops, as well as facade building itself. Handling non-architectural can be done by making a passing motor vehicles housing environment reduce speed to less than 20 km / hr.

Keywords: Noise, neighbourhood, traffic