PESAN JURNAL KLIK SINI
....................................................................................................................................
Tampilkan postingan dengan label Penulis : Teguh Prihanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulis : Teguh Prihanto. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Januari 2015

PENGEMBANGAN SISTEM TRANSPORTASI HIJAU KAMPUS UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG SEBAGAI PENDUKUNG MOBILITAS CIVITAS AKADEMIKA


Lingkungan kampus merupakan tempat publik yang penting di mana banyak orang beraktivitas selama sehari penuh. Salah satu pendukung utama dari pergerakan manusia dan barang adalah transportasi yang efektif dan efisien. Transportasi Internal, Infrastruktur dan Mobilitas menjadi hal penting dalam kerangka untuk mengetahui kinerja sebuah sistem transportasi internal dan implementasinya di lapangan. Beberapa hal yang terkait dengan kajian meliputi tiga aspek yaitu: (1) sistem tata kelola transportasi internal; (2) sarana prasarana transportasi internal dan (3) pergerakan pengguna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) Mengembangkan sarana prasarana pendukung program transportasi hijau; (2) Mengembangkan kesehatan lingkungan kampus Unnes yang optimal; (3) Mengembangkan sistem transportasi hijau yang mendukung mobilitas civitas akademika Unnes; dan (4) Mengembangkan sistem transportasi hijau yang mendukung kinerja civitas akademika Unnes. Penelitian ini akan dilaksanakan dengan desain riset dan pengembangan (research and development/ R and D) dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini dipandang sangat tepat karena berkaitan dengan tujuan umum penelitian yaitu: (1) Mengembangkan sarana prasarana pendukung program transportasi hijau; (2) Mengembangkan kesehatan lingkungan kampus Unnes yang optimal; (3) Mengembangkan sistem transportasi hijau yang mendukung mobilitas civitas akademika Unnes; (4) Mengembangkan sistem transportasi hijau yang mendukung kinerja civitas akademika Unnes. Berdasarkan identifikasi kondisi di lapangan, sistem transportasi internal Kampus Unnes di Sekaran sebagian telah terimplementasi dalam bentuk elemen-elemen fisik, yaitu infrastruktur transportasi internal Kampus Unnes, sarana transportasi dan sistem pengaturannya. Meski telah tersedia, sarana dan infrastruktur masih belum optimal dalam mendukung pergerakan dan kenyamanan civitas akademika sebagai pengguna. Kenyamanan civitas akademika dan kesehatan lingkungan juga dipengaruhi oleh tingkat polutan yang ada dalam kawasan kampus.

Kata kunci: Kampus, Transportasi, Internal

Penulis :Teguh Prihanto.Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES). Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

preview/ download

Jumat, 29 November 2013

KAJIAN RUANG TERBUKA TERHADAP INTERAKSI ANTAR PENGHUNI DI PERUMAHAN TEPI KOTA SEMARANG


Abstrak : Riset ini memiliki tujuan untuk: menemukan pola perencanaan ruang terbuka perumahan di urban fringe area, mengkaji dampak keberadaan ruang terbuka perumahan terhadap kehidupan sosial penghuninya dan menemukan faktor-faktor pendukung peran ruang terbuka terhadap lingkungan perumahan. Peneliti menggunakan pendekatan rasionalistik yang menuntut sifat holistik, obyek diteliti tanpa dilepaskan dari konteksnya. Rasionalistik bertolak dari konstruksi teori, “grand concept” yang mungkin sudah merupakan “grand theory”. Desain penelitian rasionalistik yang bertolak dari kerangka teori, dibangun dari pemaknaan hasil penelitian terdahulu, teori-teori yang dikenal dan buah pikiran para pakar. Pola perencanaan ruang terbuka di perumahan urban fringe area (daerah pinggir kota) pada umumnya adalah: (1) terletak di tengah area perumahan dan menjadi pusat orientasi bangunan-bangunan (rumah) yang ada di sekelilingnya, sehingga organisasi ruang yang terbentuk adalah organisasi memusat; (2) merupakan bagian dari jaringan jalan utama perumahan; (3) mempunyai bentuk geometris persegi maupun segitiga; (4) bentuk geometris persegi umumnya berfungsi sebagai lapangan olah raga (ruang terbuka berbentuk geometris persegi) dan sebagai ruang terbuka hijau (ruang terbuka berbentuk segitiga); (5) perlakuan terhadap kondisi topografi berkontur dengan pernyesuaian lereng dan perataan lahan menggunakan metode cut and fill. 

Kata Kunci : ruang terbuka, perumahan, pola, sosial

Abstract: Target that wish reached in this research are: to find the planning pattern of housing open spaces in urban fringe area, to study the impacts of open space to social living; and to find the functional factors of open space toward the housing environment.The researcher applied a rationalistic approach which the objects are not detached from the context. Rationalistic based on grand concept that may be as grand theory. The design of rationalistic approach built from the results of previous research, the contextual theories and the expert’s minds.The results of this research: First, the planning pattern of housing open spaces are: (1) located at the centre of site and became the orientation of the houses where placed around it; (2) a part of housing main street; (3) formed in a geometrical pattern (rectangular or triangular pattern); (4) the rectangular pattern used as a playground and the triangular pattern used as a green open space; (5) used cut and fill method to manage the topographical condition. 

Keywords: open space, housing, pattern, social

Penulis:
Arie Taveriyanto dan Teguh Prihanto 
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES)
Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

KAJIAN SPASIAL DAERAH PINGGIRAN KOTA SEMARANG BERDASARKAN RPJMD TAHUN 2010 – 2015


Abstrak: Kota Semarang memiliki posisi geostrategis karena berada pada jalur lalu lintas ekonomi pulau Jawa, dan merupakan koridor pembangunan Jawa Tengah. Dalam pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan kota, Pemerintah Kota Semarang memiliki rencana-rencana strategis yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2010-2015. RPJMD adalah salah satu dokumen yang berisi kebijakan Pemerintah Kota selama kurun waktu 5 tahun yang disesuaikan dengan masa jabatan Walikota Semarang. Namun ada kalanya setiap kebijakan juga dibarengi dengan penyimpangan atau penyesuaian di lapangan, baik secara teknis, ekonomis maupun politis. Unsur fisik yang sering kali mengalami penyimpangan fungsi adalah pola perubahan spasial (lahan), terutama Kawasan Pinggiran Kota Semarang, di antaranya adalah wilayah Kecamatan Ngaliyan dan Tembalang. Kedua wilayah ini mengalami perkembangan dinamis dalam pemanfaatan dan perubahan fungsi spasial, pergerakan moda, perkembangan perdagangan serta perekonomian. Di wilayah Kecamatan Ngaliyan mengalami perubahan spasial yang membentuk pola perubahan konsentris spasial karena adanya akses utama, yakni berupa jalan kelas 1 yang menghubungkan atau memotong komunitas daerah pinggiran kota (urban fringe). Sedangkan wilayah Kecamatan Tembalang mengalami perubahan spasial yang membentuk pola perubahan dispersi spasial karena adanya pembagian spasial secara merata dari suatu kelompok komunitas urban fringe, sebagai dampak dibangunya jalan-jalan penghubung (jalan lingkungan).

Kata Kunci: spasial, kawasan pinggiran kota, RPJMD

Abstract : Semarang has a geostrategic position because they are on the path of economic traffic island of Java , and is a development corridor in Central Java . In the implementation of the management and development of the city , Semarang City Government has strategic plans set out in the Medium Term Development Plan (RPJMD ) Year 2010-2015 . RPJMD is one document that contains the Municipal Government policy during a period of 5 years , adjusted to the tenure of the Mayor of Semarang . But there are times when each policy was accompanied by deviations or adjustments in the field , both technically , economically and politically . Physical elements that are often experienced deviation function is the spatial pattern of change ( land ) , especially Suburbs Semarang , among which are the sub Ngaliyan and Tembalang . The second area is experiencing dynamic growth and change in the use of spatial functions , modes of movement , trade and economic development . In the District Ngaliyan spatial changes that form concentric spatial pattern changes because of the main access , which is a class 1 road connecting or cutting suburban communities ( urban fringe ) . While the District Tembalang spatial changes that shape the spatial dispersion pattern changes due to the uneven spatial distribution of a group of urban fringe communities , as dibangunya impact of feeder roads ( the environment ) .

Keywords : spatial , suburban areas , RPJMD

Penulis:
Teguh Prihanto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES)
Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Minggu, 02 Juni 2013

PERANCANGAN FASILITAS PEJALAN KAKI DI KORIDOR HIJAU KAMPUS UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG



Abstrak: Sebagai Kampus Konservasi, Universitas Negeri Semarang (Unnes) akan menerapkan kebijakan transportasi internal yaitu pergerakan pengguna dengan berjalan kaki atau bersepeda menuju gedung kampus. Fasilitas pejalan kaki ini dipandang masih belum memenuhi aspek kelayakan dan kenyamanan, terutama di koridor kawasan kampus timur. Tujuan penelitian adalah mengkaji faktor kenyamanan pengguna dan menemukan alternatif konsep perancangan fasilitas koridor hijau di kawasan kampus timur. Variabel penelitian meliputi aspek: fungsional, aksesibel, kenyamanan dan estetika. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Pedestrian yang ada masih belum mencapai standar fungsional, baik kenyamanan maupun keamanan pengguna. Hal ini dapat dilihat pada: saluran terbuka yang berada tepat di sisi tepi pedestrian, penutup lubang saluran di bawah pedestrian yang terbuka, penyempitan pedestrian oleh prasaraana lain dan pohon dan banyak area pedestrian yang tidak ternaungi oleh vegetasi peneduh.

Kata kunci: koridor hijau, pejalan kaki, pedestrian.

Abstract: Universitas Negeri Semarang (Unnes) as The Conservation University will implements the policies of internal transportation which guide movement of users by walking or cycling into campus buildings. Pedestrian facilities is seen fulfills the eligibility and comfort, espescially in the east corridor of campus area. The research objective is to assess the user’s convenience factor and find some alternative facility design concepts of green corridor. Tha variables of study include several aspects: functional, accessible, comfortable and aesthetics. The results showed the the exixting pedestrian still not up to functional standards, both the comfort and safety of users. These can be seen in: open channel which is located on the edge of the pedestrian, cover drain holes at the bottom of an open pedestrian, narrowing pedestrian by other infastructures and trees and lots of pedestrian areas those are not shaded by vegetation shading.

Keywords: green corridors, walker, pedestrians

Penulis : Teguh Prihanto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES)
Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229, email: rihants@gmail.com

preview/download

Rabu, 18 Juli 2012

KAJIAN DAYA DUKUNG RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP KINERJA GEDUNG KAMPUS KONSERVASI


Oleh : Teguh Prihanto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229, email: rihants@gmail.com

Abstrak : Penelitian ini memiliki tujuan antara lain: (1) mengkaji penerapan green architecture terhadap desain ruang terbuka hijau kampus; (2) mengkaji daya dukung fisik ruang terbuka hijau terhadap keberadaan bangunan kampus dan lingkungan sekitarnya sebagai kawasan konservasi dan (3) memberikan rekomendasi desain ruang terbuka hijau kampus jika tidak selaras dengan konsep green architecture dan tidak memiliki daya dukung kuat terhadap bangunan kampus konservasi beserta lingkungannya.Penelitian ini mengambil lokasi di kawasan Kampus Fakultas Teknik Unnes. Secara khusus meninjau ruang-ruang terbuka yang mempunyai hubungan langsung dengan bangunan Gedung E1 dan E2, yaitu antara lain: parkir kendaraan, sitting group, taman dan hutan kampus. Penelitian ini bersifat “deskriptif-analitis”, yang bertujuan untuk mendapatkan nilai terukur tingkat kenyamanan fisik lingkungan ruang terbuka hijau dari hasil pengukuran suhu, kecepatan angin, kelembaban udara dan tingkat intensitas matahari. Ukuran kenyamanan akan berhubungan dengan daya dukung ruang terbuka terhadap fungsi gedung E1 dan E2 sebagai kantor dan ruang kuliah. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: (1) kenyamanan thermal dan (2) ruang terbuka hijau.Hasil penelitian menyebutkan bahwa secara umum, kondisi lingkungan di kawasan Gedung E1 dan E2 Fakultas Teknik Unnes sangat kondusif dan sesuai dengan aspek konservatif.

Kata Kunci: ruang terbuka, gedung E1-E2, vegetasi, udara

Abstract : The aims of this research are: (1) to review the application of green architecture concept to the design of the campus green open space, (2) to assess the physical carrying capacity of green open spaces of the existence of campus buildings and surrounding environment as a conservation area ;(3) to provide open space design recommendations green campus, if not in harmony with the concept of green architecture and do not have a strong bearing on the campus buildings and environment conservation.This research takes place in the region Unnes Campus Faculty of Engineering. In particular review the open spaces that have a direct relationship with the building Building E1 and E2, they are: vehicle parking, sitting groups, parks and forests campus. This was a "descriptive-analytic ', which aims to get the measured values of physical comfort level environment of green open space of the measurement of temperature, wind speed, air humidity and solar intensity level. Size of comfort will be dealing with the carrying of open space to the function of E1 and E2 building as offices and lecture halls. The variables used in this study include: (1) thermal comfort and (2) green open space.The results say that in general, environmental conditions in the area of Building Engineering Faculty of E1 and E2 Unnes very conducive and in accordance with conservative aspect.

Keywords: open space, building E1-E2, vegetation, air

PERUBAHAN SPASIAL DAN SOSIAL-BUDAYA SEBAGAI DAMPAK MEGAURBAN DI DAERAH PINGGIRAN KOTA SEMARANG


Oleh : Teguh Prihanto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102. Email: rihants@gmail.com

Abstrak : Penelitian tentang perubahan spasial dan sosial-budaya sebagai dampak megaurban di daerah pinggiran Kota Semarang memiliki tujuan: (1) menemukan dan mengkaji faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya proses megaurban; (2) menemukan mekanisme kerja atau proses megaurban berlangsung; dan (3) mengkaji dampak yang timbul dari proses tersebut (terutama spasial, sosial-budaya, ekonomi dan kependudukan. Lokasi penelitian ini adalah daerah pinggiran Kota Semarang. Kota ini dipilih karena memiliki peran yang strategis. Penelitian ini akan didekati dengan paradigma terpadu secara naturalistik atau fenomenologi. Pendekatan ini bukan berarti mengingkari paradigma positivistik, namun justru upaya untuk ”saling melengkapi”. Dalam paham positivisme, pendekatan utamanya adalah metode kuantitatif dengan kata-kata kunci seperti: hipotesis, uji sampel, populasi, deduksi, dalil, generalisasi, dan sebagainya, sedangkan dalam pendekatan naturalistik lebih condong ke arah metode analisis kualitatif Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Perkembangan Kota Semarang sebagai kota besar di bidang industri, perdagangan, jasa dan pendidikan memiliki pengaruh terhadap daerah-daerah pinggiran kota. Pengaruh tersebut adalah: (1) Aspek kependudukan: terjadi pergeseran mata pencarian penduduk daerah pinggiran kota dari pertanian ke non pertanian; (2) aspek sosial budaya: terjadi akulturasi budaya antara para pendatang dan penduduk asli daerah pinggiran kota; (3) aspek fisik spasial: terjadi alih fungsi lahan daerah pinggiran kota, dari lahan pertanian menjadi lahan permukiman, perdagangan dan industri.

Kata Kunci: megaurban, kota semarang, daerah pinggiran kota, sosial budaya

Abstract : The research of spatial and socio-cultural changes as megaurban impacts in urban fringe area of Semarang has several aims: (1) to discover and examine what factors cause megaurban process, (2) to find a mechanism or process megaurban place, and (3) to study the effects of the process (especially spatial, socio-cultural, economics and demography. The location of this study is the outskirts of Semarang. The city was chosen because it has a strategic role. This research will be approached in an integrated paradigm is naturalistic or phenomenology. This approach does not mean denying the positivistic paradigm, but instead attempt to "complement each other." In the understanding of positivism, its main approach is a quantitative method with key words such as: hypothesis, test the sample, population, deduction, theorem, generalization, and so on, whereas in a more naturalistic approach leaning towards qualitative analysis method. The research concluded that the development of Semarang as a major city in the fields of industry, commerce, services and education have an impact on suburban areas. Influence are: (1) Aspects of demography: there is livelihoods suburbs change from agriculture to non-agriculture, (2) socio-cultural aspects: acculturation occurred between the settlers and natives suburbs, (3) physical aspects of spatial : land conversion occurs suburbs, from agricultural land into residential land, trade and industry.

Keywords: megaurban, Semarang city, the suburbs, social culture

Selasa, 17 Juli 2012

PENGARUH KEHIDUPAN SOSIO-KULTURAL TERHADAP SPASIAL PERMUKIMAN DI KELURAHAN SEKARAN SEBAGAI DAERAH PINGGIRAN KOTA SEMARANG


Oleh : Teguh Prihanto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229, email: rihants@gmail.com

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah: (1) menjelaskan penerapan kebijakan Pemerintah terhadap spasial Kelurahan Sekaran sebagai daerah pinggiran kota; (2) menjelaskan pengaruh Kampus Unnes terhadap kehidupan sosio-kultural masyarakat Sekaran; dan (3) menjelaskan pola perubahan spasial permukiman Kelurahan Sekaran sejak keberadaan Kampus Unnes. Peneliti menggunakan pendekatan rasionalistik yang bertolak dari konstruksi “grand concept” yang mungkin sudah merupakan “grand theory”. Desain penelitian rasionalistik yang bertolak dari kerangka teori, dibangun dari pemaknaan hasil penelitian terdahulu, teori-teori yang dikenal dan pikiran para pakar. Kesimpulan umum menggambarkan bahwa Kelurahan Sekaran merupakan kawasan tumbuh kembang seiring terjadinya aglomerasi Kota Semarang. Hal tersebut telah diatur dalam Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Tahun 2000 – 2010 pasal 13 Kota Semarang Bagian Wilayah Kota (BWK) VIII, yang salah satunya sebagai kawasan perguruan tinggi. Kesimpulan khusus penelitian adalah: (1) Adanya perubahan sosial dari kehidupan gotong royong ke arah profit; (2) Dari kajian tipologi bangunan ditemukan bahwa: bangunan pertama berfungsi sebagai rumah hunian pemilik dan yang terbaru berfungsi sebagai tempat usaha komersial yang tumbuh mendekati jalan utama sejak Tahun 1990an; (3) Secara umum, fungsi spasial permukiman berupa: halaman luar, rumah pemilik, rumah kos, kios, halaman dalam dan kamar mandi; (4) Hierarki ruang terluar adalah kios yang terdalam adalah rumah kos; (5) Ruang komunal berada di teras rumah kos dan teras rumah pemilik; (6) Terbukanya akses antara pemondok dan lingkungan luar secara tidak langsung memberikan keleluasaan kontrol pemilik kos.

Kata kunci : sosio-kultural, spasial permukiman, Sekaran, daerah pinggiran kota

Abstract: The aims of This research are: (1) to explain The Government’s policies which applied to Sekaran Village as urban fringe area; (2) to explain the influences of Unnes Campus to the socio-cultural life of Sekaran peoples; (3) to explain the physical configuration of spatial settlements of Sekaran Village since Unnes Campus existed. The researcher applied rationalistic which based on the grand concept that may be as the grand theory. The design of rationalistic approach built from the results of previous research, the contextual theories and the expert’s minds. The results of this research are generally describes that Sekaran Village as the hinterland of Semarang City is the sprouting up area as well as the city agglomeration. That was regulated by Detailed Urban Plan 2000-2001 section 13 of Semarang City which located on Part of Urban Region VIII. One of the regulations is determined that Sekaran Village as an higher educational area. The specific results of this research are: (1) There is a socio-cultural change, from mutual cooperation to profit; (2) Based on the typological study, the first building is the owner house and the last is the commercial building which grew up nearest the main street since 1990; (3) Commonly, the functions of spatial are: external yard, internal yard, owner house, boarding house, shop and toilet; (4) In hierarchy, the outer side is a shop and the inner side is a boarding house; (5) The communal places existed in a boarding house terrace and a owner house terrace (6) There are open accesses between owner house, boarding house and external yard which has more less owner’s control.

Keywords : socio-cultural, spatial of settlements, urban fringe area