PESAN JURNAL KLIK SINI
....................................................................................................................................
Tampilkan postingan dengan label Penulis : Sri Handayani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulis : Sri Handayani. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 September 2014

PEMANFAATAN LIMBAH KAYU JATI UNTUK PERKUATAN KAYU SENGON SEBAGAI BALOK LAMINASI


Abstrak: Keterbatasan ukuran kayu struktural semakin mahal dan sulit untuk diperoleh. Oleh karena itu perlu adanya suatu upaya teknologi pengolahan kayu yang mampu mengatasi permasalahan tersebut. Kayu Sengon termasuk dalam jenis kayu yang dapat dengan cepat tumbuh, mudah di dapat tetapi penggunaannya sebagai bahan konstruksi belum optimal.Teknologi yang digunakan guna mendukung kayu sebagai bahan konstruksi adalah dengan laminasi. Laminasi (glulam) adalah gabungan dari satu macam bahan ataupun lebih dimana bahan tersebut dibuat menjadi lapisan-lapisan yang relatif tipis yang direkatkan satu sama lain sehingga membentuk dimensi yang lebih besar. Rekayasa eksperimen dilakukan dengan membuat balok laminasi dari kayu Sengon dan kayu Jati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kuat lentur balok kayu laminasi dalam perkuatan kayu sengon sebagai pengganti balok struktur, dan target penelitian ini untuk mengetahui kuat lentur balok kayu laminasi dalam perkuatan sisi lemah balok, serta secara akademis dapat memberikan wawasan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam pemanfaatan sistem kayu laminasi sebagai balok bangunan rumah tinggal sederhana, dan dari hasil penelitian ini diharapkan sistem laminasi kayu dapat menjadi alternatif dalam memenuhi kebutuhan balok struktur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen yang dilakukan dengan mengadakan penelitian di Laboratorium Bahan dan Laboratorium Kerja Kayu Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengujian kuat lentur kayu laminasi.

Kata Kunci: kayu sengon, kayu jati, laminasi, kuat lentur.

Abstract: The limited size of the structural wood more expensive and difficult to obtain. Therefore there needs to be an effort timber processing technology that is able to overcome these problems. Wood Sengon, including the type of wood that can quickly grow, easy on the can but its use as a construction material has not been used to support optimal.Teknologi wood as a construction material is a laminate. Laminate (glulam) is a combination of one or more kinds of materials in which the material is made ​​into a layer of relatively thin-layer bonded to one another to form a larger dimension. Engineering experiments done by creating beams of laminated wood and rosewood Sengon. The purpose of this study is to determine how much the increase bending strength of laminated wood beams in lieu of retrofitting sengon wood beam structure, and the target of this research to determine the flexural strength of laminated wood beams in weak side reinforcement beams, as well academically may provide insight into the development of science and technology, particularly in the use of the system as a laminated wood beams residential buildings are simple, and the results of this study are expected to wood laminate system can be an alternative in meeting the needs of the beam structure. The method used is an experimental method that is carried out by conducting research in the Laboratory of Wood Materials and Engineering Laboratory Work Faculty of Civil Engineering, State University of Semarang. This type of research is conducted in this study flexural strength testing of laminated wood.

Keywords: sengon wood, teak wood, laminate, flexural strength.

Penulis:
Sri Handayani dan Woro Yuniarti. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES)

Rabu, 18 Juli 2012

KUALITAS BATU BATA MERAH DENGAN PENAMBAHAN SERBUK GERGAJI


Oleh : Sri Handayani
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229

Abstrak : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang akan menguji kualitas batu bata merah dengan penambahan campuran limbah serbuk gergaji. Serbuk gergaji merupakan limbah dari penggergajian kayu yang biasa dihasilkan dari alat gergaji baik gergaji manual maupun gergaji mesin. Variabel dalam penelitian ini adalah standar kualitas batu bata merah yang meliputi pandangan luar (bentuk, warna), berat, ukuran, kuat tekan, kandungan kadar garam dan penyerapan air dan bobot isi. Bahan dasar diambil dari tanah lahan kebun pertanian/kebun yang kurang produktif di Desa Karanganyar Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan serbuk gergaji 10% tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan batu bata tanpa penambahan serbuk gergaji (0%). Demikian pula dari berat batu bata, campuran 10% akan menghasilkan berat batu bata yang lebih ringan. Ditinjau dari keretakan, campuran 10% tidak terjadi keretakan (0%) lebih menguntungkan dibandingkan dengan campuran 0% diperoleh keretakan sebesar 30%. Implikasi dari hasil ini adalah penambahan serbuk gergaji 10% akan menghasilkan batu bata yang lebih ringan beratnya, dan mampu meningkatkan produktifitas karena keretakannya 0% tetapi akan memberikan kekuatan yang tidak berbeda secara signifikan dengan tanpa campuran. Oleh karena itu serbuk gergaji sebagai limbah penggergajian kayu dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran dalam pembuatan batu bata dengan prosentase penambahan 10%.

Kata kunci : kualitas batu bata, tanah liat, serbuk gergaji

Abstract : This study is an experiment that will test the quality of red brick with the addition of a mixture of sawdust waste. Sawdust is a waste of a normal sawmills saws tool generated from both manual and mechanical chainsaw. The variable in this study are the standard of quality red bricks covering the outside view (shape, color), weight, size, compressive strength, content of salt and water absorption and weight of the contents. Basic materials taken from the agricultural land/garden which is less productive in the Village of Karanganyar District Adipala Regency of Cilacap. The results showed that the addition of sawdust, 10% showed no significant differences with bricks without the addition of sawdust (0%). Similarly, the heavy brick, a mixture of 10% will result in heavy brick lighter. Judging from the rift, a mixture of 10% does not happen cracks (0%) is more advantageous than a mixture of 0% obtained by cracking of 30%. The implications of this result is the addition of 10% sawdust bricks which will result in lighter weight, and can improve productivity because its rift is 0% but will give strength did not differ significantly with no mix. Therefore sawdust as waste sawmills can be used as an ingredient in the manufacture of bricks mixed with a percentage increase of 10%.

Key words: brick quality, clay, sawdust

Selasa, 17 Juli 2012

METODE PEREKATAN DENGAN LEM PADA SAMBUNGAN PELEBARAN KAYU


Oleh: Sri Handayani
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229 Telp. (024) 8508102

Abstrak: Penyambungan kayu ke arah melebar dapat dilakukan dengan berbagai metode. Metode yang pada saat ini banyak dipakai adalah metode perekatan dengan lem. Metode penyambungan dengan lem relatif lebih cepat dan mudah dikerjakan sehingga waktu yang diperlukan lebih singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan lem (Cyanocrylate dan Epoksi) pada metode sambungan ditinjau dari kuat geser. Hasil analisis menunjukkan bahwa lem Epoksi kuat menahan gaya geser sebesar 173,090 Kg/cm2 dan lem Cyanocrylate kuat menahan gaya geser sebesar 169,902 Kg/cm2. Berdasarkan uji analisis perbedaan mean dari kuat gesernya diperoleh hasil tidak ada perbedaan yang signifikan antara lem Cyanocrylate dan lem Epoksi. Sementara itu berdasarkan lamanya pengerjaan, penggunaan lem cyanocrylate lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan lem epoksi. Oleh karena itu Lem Cyanocrylate dapat dipakai sebagai pengganti lem Epoksi dengan mempertimbangkan efisiensi waktu, akan tetapi perlu kecermatan dalam pengerjaannya karena sifat dari lem Cyanocrylate mudah kering dan getas.

Kata kunci : metode perekatan, lem, cyanocrylate, epoksi, kuat geser

Abstract: Widening system of timber connecting can be made in various methods. Nowadays, the gluing method is more useful. Connection by the gluing method is more quick and easy to do, it takes time shorter. This study aims to determine the strength of the glue (Cyanocrylate and epoxy) on the connection method in terms of shear strength. Results of analysis showed that the epoxy glue to hold the sliding force of 173.090 kg/cm2 and hold Cyanocrylate glue shear force of 169.902 kg/cm2. Based on the test of the mean difference analysis of the results obtained by a sliding strength has no significant difference between Cyanocrylate glue and epoxy glue. In other hand, based on the length of workmanship, the use of glue cyanocrylate more effective than the use of epoxy glue. Therefore Cyanocrylate glue can be used as a substitute for epoxy glue to consider the efficiency of time, but need precision in the process because of the nature of easy Cyanocrylate glue dry and brittle.

Keywords : gluing method, glue, cyanocrylate, epoxy, strong shear

Senin, 16 Juli 2012

PENGUJIAN SIFAT MEKANIK BAMBU (METODE PENGAWETAN DENGAN BORAKS)


Oleh : Sri Handayani
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229

Abstrak: Bambu sebagai bahan alternatif pengganti kayu dalam bahan bangunan gedung perlu dipertimbangkan, karena bambu mempunyai kelebihan mudah didapatkan dan murah, apabila disertai dengan teknologi pengolahan bambu akan mampu meningkatkan keawetan dan kekuatan bambu. Metode pengawetan dengan menggunakan boraks merupakan salah satu upaya perbaikan sifat-sifat bambu yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas bambu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kekuatan mekanik bambu (tekan, tarik dan lentur) akibat adanya metode pengawetan dengan menggunakan boraks. Jenis bambu yang digunakan adalah bambu Ori dan Wulung, yang sering dipakai untuk keperluan bahan bangunan. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan kekuatan mekanik bambu dengan dan tanpa pengawet. Kekuatan mekanik bambu yang diawetkan dengan boraks mempunyai kekuatan lebih tinggi. Oleh karena itu, pengggunaan bambu untuk bahan bangunan terutama dalam penggunaan sebagai konstruksi perlu adanya penanganan bambu secara maksimal dengan pengawet boraks.

Kata Kunci: boraks, kuat mekanik, pengawetan bambu

Abstract: Bamboo is an alternate material for wood In the structure of building, because bamboo has more easy found and cheap, if it followed with the processing technology of bamboo as an effort to improve preservation and strong. Preservation method with boraks is the other way characteristic of bamboo developing to improve quality of bamboo. The research purpose is to know comparative result mechanics strength of bamboo (compressions, tensile, and flexure strengths), due to its preservation method with the boraks. Two species of bamboo are used in this research, they are Ori and Wulung. Analysis result shown there are different mechanics strength of bamboo between preserve and not preserve. Mechanics strength of bamboo preservation have more strength. Therefore, usage bamboo in building materials, first rate of the construction, will need maximally processing with preservation of boraks.

Keywords: boraks, mechanics strength, preservation of bamboo