PESAN JURNAL KLIK SINI
....................................................................................................................................
Tampilkan postingan dengan label Penulis : Karuniadi Satrijo Utomo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulis : Karuniadi Satrijo Utomo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 September 2014

REDIFINISI BESARAN KERJA, DAYA, DAN ENERGI SEBAGAI BESARAN VEKTOR


Abstrak : Hingga sekarang, besaran kerja, daya, dan energi merupakan besaran-besaran yang hanya didefinisikan dalam fisika dan teknik sebagai besaran skalar. Kenyataannya, ketiganya merupakan besaran vektor. Kondisi itu berpotensi membawa kecenderungan pada kesalahan dalam pemahaman dan penerapan terhadap teori-teori tersebut dan semua teori-teori lainnya yang berkaitan. Artikel ini memuat deskripsi singkat tentang masalah tersebut dan menyajikan beberapa deduksi dan bukti empiris sederhana terkait dalam upaya mengklarifikasikan suatu konsep baru untuk menekankan dan menggunakan besaran kerja, daya, dan energi sebagai besaran vektor. Diharapkan dengan konsep baru ini, teori kerja, daya, dan energi akan makin berguna bagi ilmuwan dan praktisi ahli.

Kata kunci : vektor, energi, kerja, daya

Abstract : Until now, work, power, and energy were defined as physical and engineering quantities that only to be use as scalar quantities. Actually, they were vector quantities. That condition could potentially brought to some miss-understood and miss-applicable in using those theories as well as all of their related theories. This article was describing briefly about that problems and giving some related simple deductions and empirical facts in order to clarify the new concept for emphasizing and treating the work, power, and energy as vector quantities. It is hope that with this new concept, the work, power, and energy theories will be more useful for scienceties and practices.

Keywords : vector, energy, work, power

Penulis:
Karuniadi Satrijo Utomo. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES)

Rabu, 18 Juli 2012

INTRUSI AIR LAUT DI KABUPATEN PEMALANG


Oleh : Karuniadi Satrijo Utomo
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229 email: utomo_unnes@yahoo.com

Abstrak : Satu di antara masalah penyediaan air baku di daerah pantai Kabupaten Pemalang adalah Intrusi air laut. Tujuan studi ini adalah untuk memprediksi dan memetakan intrusi air laut di wilayah tersebut, serta menyiapkan upaya pengendaliannya. Hasil studi ini menunjukkan bahwa intrusi air laut pada aquifer bebas di Kecamatan Comal dan Ulujami akan mencapai 5,8 km dari garis pantai dan pada aquifer tertekan akan mencapai 4,0 km dari garis pantai di tahun 2013. Sementara itu, intrusi air laut pada aquifer bebas maupun tertekan di Kecamatan Pemalang, Taman, dan Petarukan masih akan mencapai kurangdari 1 km dari garis pantai di tahun 2013. Untuk mereduksi masalah itu di masa datang, penting dilakukan reboisasi mangrove, pengendalian debit pemompaan dari sumur-sumur yang ada, dan membangun sumur-sumur dalam kolektif.

Kata kunci: Intrusi air laut, daerah pantai

Abstract : One of water suply problem at costal areas of Pemalang Regency is saltwater intrusion. Aims of this study are to predict that saltwater intrusion and its map, also to prepare suitable efforts to reduce that problem. Result of this study shows that saltwater intrusion at unconfined aquifers on coastal areas of Comal and Ulujami Districts will reach 5.8 km length from their shorelines and at their confined aquifers will reach 4.0 km length from their shorelines in 2013. Whilst, saltwater intrusion at both confined and unconfined aquifers on coastal areas of Pemalang, Taman, and Petarukan Districts will only reach less than1 km length from their shorelines in 2013. For reducing that problem in the future, it is important to cultivate mangrove, to control sink discharge from the existing well pumps, and to build more collective deep wells. .

Keywords: saltwater intrusion, costal areas

GERUSAN LOKAL DI KAKI STRUKTUR IMPERMEABLE BERDINDING MIRING


Oleh : Dalrino
Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Universitas Andalas Kampus Unand, Limau Manis, Padang, email: dalrino74@yahoo.co.id

Karuniadi Satrijo Utomo
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229, email: utomo.unnes@gmail.com

Abstrak : Gerusan kaki merupakan fenomena yang sering dialami oleh struktur-struktur bangunan pantai dan disadari sebagai faktor penyebab kegagalan struktur. Saat struktur ditempatkan di lingkungan pantai, keberadaan struktur tersebut akan segera mempengaruhi pola aliran disekitarnya, salah satunya adalah posisi gelombang pecah. Saat terjadi gelombang pecah, disipasi energi akibat proses pecahnya gelombang akan terkompensasi dalam bentuk vortex dan peningkatan intensitas aliran yang memiliki kemampuan untuk memindahkan material dasar dari posisi awalnya di kaki struktur. Penelitian ini difokuskan pada kondisi gelombang pecah yang menghasilkan gerusan local di kaki pada struktur impermeable berdinding miring. Variabel pengujian terdiri atas tinggi gelombang (H), periode gelombang (T), kedalaman air di kaki struktur (ds), kemiringan pantai (tan b), dan sudut kemiringan struktur (a). Pemodelan fisik dilakukan pada saluran gelombang dengan panjang 40 m, lebar 0,6 m dan tinggi 1,1 m di Balai Hidraulika dan Geoteknik Keairan (BHGK) PUSAIR, Bandung. Hasil penelitian memperlihatkan terjadinya peningkatan gerusan kaki sebagai akibat dari karakter gelombang pecah dan interaksinya terhadap struktur. Peningkatan kedalaman gerusan sebagai hubungan dari kedalaman air di kaki struktur, tinggi gelombang pecah, parameter surf similarity, gangguan terhadap dasar di kaki struktur akibat proses pecah gelombang, dan kecepatan aliran downrush.

Kata kunci: gerusan lokal, kaki struktur, gelombang pecah, impermeable, dinding miring

Abstact : Toe scour was one of phenomenon that frequently experienced by coastal structures and realized as the causative factor to structure failure. When a coastal structure was placed at coastal environment, existence of that structure would rapidly affect to the flow pattern around its area, one of them was breaking wave position. When breaking wave happened, energy dissipation caused by breaking process would be compensated in the form of vortex and improvement of flow intensity that have ability to move bed material from its original rest position around the toe.This research was focused on the breaking wave condition that produce local scouring at toe of impermeable sloping wall structure. Testing variable consists of wave height (H ), wave period (T) , water depth at toe (ds), beach slope (tan b), and angle of structure (a). Physical Modeling was conducted at wave flume with 40 m length, 0.6 m width and 1.1 m height in Balai Hidraulika and Geoteknik Keairan (BHGK) PUSAIR, Bandung. Riset result shows that improvement of toe scour was affected by breaking wave characteristics and their interaction with the structure. Improvement of depth of scour was in relation with water depth at toe, height of wave breaking, surf similarity parameter, bed agitation caused by breaking process, and downrush flow velocity.

Keywords: local scouring, toe structure, breaking wave, impermeable, sloping wall