PESAN JURNAL KLIK SINI
....................................................................................................................................
Tampilkan postingan dengan label Penulis : Arie Taveriyanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulis : Arie Taveriyanto. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 November 2013

KAJIAN RUANG TERBUKA TERHADAP INTERAKSI ANTAR PENGHUNI DI PERUMAHAN TEPI KOTA SEMARANG


Abstrak : Riset ini memiliki tujuan untuk: menemukan pola perencanaan ruang terbuka perumahan di urban fringe area, mengkaji dampak keberadaan ruang terbuka perumahan terhadap kehidupan sosial penghuninya dan menemukan faktor-faktor pendukung peran ruang terbuka terhadap lingkungan perumahan. Peneliti menggunakan pendekatan rasionalistik yang menuntut sifat holistik, obyek diteliti tanpa dilepaskan dari konteksnya. Rasionalistik bertolak dari konstruksi teori, “grand concept” yang mungkin sudah merupakan “grand theory”. Desain penelitian rasionalistik yang bertolak dari kerangka teori, dibangun dari pemaknaan hasil penelitian terdahulu, teori-teori yang dikenal dan buah pikiran para pakar. Pola perencanaan ruang terbuka di perumahan urban fringe area (daerah pinggir kota) pada umumnya adalah: (1) terletak di tengah area perumahan dan menjadi pusat orientasi bangunan-bangunan (rumah) yang ada di sekelilingnya, sehingga organisasi ruang yang terbentuk adalah organisasi memusat; (2) merupakan bagian dari jaringan jalan utama perumahan; (3) mempunyai bentuk geometris persegi maupun segitiga; (4) bentuk geometris persegi umumnya berfungsi sebagai lapangan olah raga (ruang terbuka berbentuk geometris persegi) dan sebagai ruang terbuka hijau (ruang terbuka berbentuk segitiga); (5) perlakuan terhadap kondisi topografi berkontur dengan pernyesuaian lereng dan perataan lahan menggunakan metode cut and fill. 

Kata Kunci : ruang terbuka, perumahan, pola, sosial

Abstract: Target that wish reached in this research are: to find the planning pattern of housing open spaces in urban fringe area, to study the impacts of open space to social living; and to find the functional factors of open space toward the housing environment.The researcher applied a rationalistic approach which the objects are not detached from the context. Rationalistic based on grand concept that may be as grand theory. The design of rationalistic approach built from the results of previous research, the contextual theories and the expert’s minds.The results of this research: First, the planning pattern of housing open spaces are: (1) located at the centre of site and became the orientation of the houses where placed around it; (2) a part of housing main street; (3) formed in a geometrical pattern (rectangular or triangular pattern); (4) the rectangular pattern used as a playground and the triangular pattern used as a green open space; (5) used cut and fill method to manage the topographical condition. 

Keywords: open space, housing, pattern, social

Penulis:
Arie Taveriyanto dan Teguh Prihanto 
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES)
Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Rabu, 18 Juli 2012

BRESING YANG BAIK UNTUK STRUKTUR GEDUNG TAHAN GEMPA


Oleh : Arie Taveriyanto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : Pada beberapa tipe chevron biasa, rangka bresing baja konsentrik (OCBF) menderita bahaya gempa bumi yang besar. Sebuah gedung di Hollywood Utara, yang dipilih untuk studi ini, karena pada bulan Januari 1994 di Northridge terjadi gempa bumi. Adanya bahaya gempa bumi ini yang mendasari pengembangan bentuk konfigurasi dari bresing, sehingga diperoleh bresing yang baik untuk struktur gedung yang tahan gempa. Perubahan konfigurasi bresing dari chevron menjadi konfigurasi X 2 lantai dapat menghindari ketidakstabilan dan sendi plastis pada balok lantai. Lebih lanjut perbaikan dapat dicapai dengan mendesain ulang bresing dan balok lantai menjadi sistem lemah dan balok kuat SCBFs. Peningkatan penuh ini pada CSBFs menghasilkan respon histeretik yang baik dengan aksi inelastik menghasilkan respon histeristk yang baik dengan aksi inelastik menghasilkan bresing yang daktail, menunjukkan distribusi yang daktail, menunjukkan ditribusi yang layak dari bahaya yang tinggi pada gedung.

Kata kunci: bresing, gedung, tahan gempa

Abstract : On some types of chevron regular, concentric steel frame bresing (OCBF) suffered a major earthquake hazard. A building in North Hollywood, which was chosen for this study, due in January 1994 Northridge earthquake. The danger of this earthquake that underlie the development of bresing shape configuration, in order to obtain good bresing for building earthquake-resistant structures. Bresing of chevron configuration changes to the configuration X 2 floors to avoid instability and plastic joints in the floor beams. Further improvement can be achieved by redesigning bresing and floor beams into a system of weak and strong beams SCBFs. The increase in CSBFs produce this full histeretik good response with inelastic action produces a good response to the action histeristk inelastic bresing produce a ductile, showing the distribution of the ductile, showing the proper distribution of the dangers that are high on the building.

Key words: bresing, buildings, earthquake resistant


preview/download

Selasa, 17 Juli 2012

KAJIAN DAKTILITAS TULANGAN PENGEKANG TERPASANG PADA STRUKTUR KOLOM BETON EKSISTING


Oleh : Arie Taveriyanto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229, email: arie.tave@yahoo.com

Abstrak: Artikel ini menyampaikan sebuah evaluasi dari kerja tulangan pengekang kolom-kolom beton terpasang di daerah Yogyakarta. Tulangan pengekang terpasang yang biasanya disebut “sengkang” diikatkan ke kolom struktur dan berfungsi mengontrol kerja kolom terhadap beban lateral (biasa disebut beban gempa) sehingga daktilitas kolom terpenuhi untuk menahan beban gempa. Rasio tulangan pengekang beton dievaluasi dengan rasio tulangan minimum yang terdapat di SNI 03-2847-2002, sehingga daktilitas kolom dapat diobservasi. Hasil dari evaluasi adalah bahwa tulangan pengekang dari gedung yang ditinjau memenuhi syarat seperti yang tercantum dalam SNI serta konfigurasi tulangan longitudinal yang ada memperkuat daktiltas kolom.

Kata kunci : Tulangan lateral, daktilitas kolom, konfigurasi tulangan longitudinal.

Abstract: This article contains of the evaluation of how the columns work in existing buildings which are located in Yogyakarta.The lateral bone frame that is usually called “sengkang” it is attached to column structure and has main function which is controlling the work of column over the lateral load (usually is called earthquake load) so that the column ductility can be kept to maintenance its strength over the earthquake load. The ratio of confined concrete bone frame is evaluated by the minimum ratio determination based on SNI 03-2847-2002. The columns ductility that have been observed in this article. The result of the evaluation is that the confined bone frame of the building have fulfilled all the requirement based on SNI and the column ductility is sufficient enough. Also the configuration of longitudinal bone frame has an impact for column ductility.

Keyword : lateral bone frame, the column ductility, configuration of longitudinal bone frame