PESAN JURNAL KLIK SINI
....................................................................................................................................

Selasa, 06 Januari 2015

PENGARUH PANAS HIDRASI BETON DENGAN SEMEN TYPE II TERHADAP KETEBALAN ELEMEN BETON


Karakteristik panas hidrasi campuran dengan semen type I di lapangan baru terbaca pada suhu puncak, yaitu suhu yang terbentuk setelah periode Dormant (Dormant Periode) dalam proses hidrasi. Perbedaan suhu antara bagian inti dan bagian atas pada beberapa hasil monitoring thermocouple melebihi 20oC dapat menjadi pemicu retak dalam jangka panjang. Secara keseluruhan adanya fly ash dalam campuran beton di lapangan tidak terindikasi dari suhu yang tercatat. Pemakaian semen type II serta fly ash pada benda uji ukuran besar di laboratorium belum dapat menurunkan suhu campuran secara maksimal, sedangkan untuk benda uji dengan ukuran lebih kecil suhu maksimum tersebut dapat dipenuhi. Sedangkan karakteristik suhu pada setting time dengan benda uji standar (100mm x 100mm x 100mm) tidak mudah dijadikan referensi untuk perilaku suhu setting time beton dengan volume besar. Secara visual, kondisi benda uji tanpa retak mikro, dengan demikian asumsi yang kemudian diambil adalah bahwa perbedaan suhu elemen uji bagian atas dengan suhu inti tidak terlalu besar ( < 20 °C). Asumsi tersebut dapat dikatakan sudah benar. Dengan kurangnya kepadatan, maka perbedaan suhu antara lapisan inti dan lapisan atas tidak akan besar, karena adanya porisitas yang lebih besar, terlihat dari hasil uji PUNDIT, nilai cepat rambat gelombang hanya menunjukkan nilai 3.7 Km/sec. Korelasi data hasil pengujian di lapangan dengan data hasil pengamatan di laboratorium pada dasarnya tidak bisa dilakukan, karena bahan pembentuk berbeda. Tetapi beton masa dengan menggunakan semen type I dan fly ash sebesar 15%, suhu terekam mencapai suhu batas (85°C) yang dapat menyebabkan perbedaan tegangan sangat besar dalam beton. Pemakaian fly ash dalam jumlah lebih banyak serta semen type II pada benda uji di laboratorium, menunjukkan suhu terekam mencapai suhu batas 68oC, nilai tersebut lebih rendah sebesar 19% dari suhu maksimum di lapangan.

Kata kunci: Beton massa, suhu, panas hidrasi, semen type II, fly ash

Penulis: Rochaeti, Jul Endawati, Lilian Diasti Dessi Widuri dan Moeljono.Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung. Jl. Gegerkalong Hilir, Ds. Ciwaruga Kotak Pos 1234 Bandung 40012. Email: amr_dgreat@yahoo.com

preview/ download

PENGEMBANGAN SISTEM TRANSPORTASI HIJAU KAMPUS UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG SEBAGAI PENDUKUNG MOBILITAS CIVITAS AKADEMIKA


Lingkungan kampus merupakan tempat publik yang penting di mana banyak orang beraktivitas selama sehari penuh. Salah satu pendukung utama dari pergerakan manusia dan barang adalah transportasi yang efektif dan efisien. Transportasi Internal, Infrastruktur dan Mobilitas menjadi hal penting dalam kerangka untuk mengetahui kinerja sebuah sistem transportasi internal dan implementasinya di lapangan. Beberapa hal yang terkait dengan kajian meliputi tiga aspek yaitu: (1) sistem tata kelola transportasi internal; (2) sarana prasarana transportasi internal dan (3) pergerakan pengguna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) Mengembangkan sarana prasarana pendukung program transportasi hijau; (2) Mengembangkan kesehatan lingkungan kampus Unnes yang optimal; (3) Mengembangkan sistem transportasi hijau yang mendukung mobilitas civitas akademika Unnes; dan (4) Mengembangkan sistem transportasi hijau yang mendukung kinerja civitas akademika Unnes. Penelitian ini akan dilaksanakan dengan desain riset dan pengembangan (research and development/ R and D) dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini dipandang sangat tepat karena berkaitan dengan tujuan umum penelitian yaitu: (1) Mengembangkan sarana prasarana pendukung program transportasi hijau; (2) Mengembangkan kesehatan lingkungan kampus Unnes yang optimal; (3) Mengembangkan sistem transportasi hijau yang mendukung mobilitas civitas akademika Unnes; (4) Mengembangkan sistem transportasi hijau yang mendukung kinerja civitas akademika Unnes. Berdasarkan identifikasi kondisi di lapangan, sistem transportasi internal Kampus Unnes di Sekaran sebagian telah terimplementasi dalam bentuk elemen-elemen fisik, yaitu infrastruktur transportasi internal Kampus Unnes, sarana transportasi dan sistem pengaturannya. Meski telah tersedia, sarana dan infrastruktur masih belum optimal dalam mendukung pergerakan dan kenyamanan civitas akademika sebagai pengguna. Kenyamanan civitas akademika dan kesehatan lingkungan juga dipengaruhi oleh tingkat polutan yang ada dalam kawasan kampus.

Kata kunci: Kampus, Transportasi, Internal

Penulis :Teguh Prihanto.Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES). Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

preview/ download

PERILAKU PENYEBERANG PEJALAN KAKI DAN PENGARUHNYA TERHADAP KINERJA LALU LINTAS


Banyak penyeberang pejalan kaki yang tidak menggunakan jembatan penyeberangan dan lebih memilih untuk menyeberang ke ruas jalan pada jalan Brigjend Katamso, meskipun pada jalan tersebut telah ada fasilitas jembatan penyeberangan. Tulisan ini menyajikan perbandingan perilaku penyeberang melalui jembatan dengan melalui jalan. Khusus penyeberang jalan apakah mempunyai pengaruh terhadap arus lalu lintas atau tidak. Bila terjadi pengaruh, seberapa besar pengaruh tersebut. Observasi/Survei awal dengan melakukan penghitungan arus lalu lintas harian selama 40 jam menggunakan metode pencacahan manual, serta metode visual dengan kamera video. Selanjutnya dari survei lalu lintas harian diketahui waktu puncak yaitu puncak pagi (05.45 – 08.45) dan puncak sore (14.30–17.30). Pada masing-masing waktu puncak kemudian dikaji perbandingan perilaku penyeberang melalui jembatan dengan melalui jalan. Khusus untuk perilaku penyeberang melalui jalan akan diteliti pengaruhnya terhadap jumlah lama kendaraan tertahan serta kecepatan mobil penumpang ketika terjadi aktifitas penyeberangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada waktu pagi hari perilaku penyeberang melalui jembatan lebih banyak dari pada melalui jalan. Sedangkan pada waktu sore hari perilaku penyeberang melalui jembatan lebih sedikit dari pada melalui jalan. Pada puncak pagi rata-rata penyeberang jalan menghambat 2 kendaraan selama 1.37 detik sedangkan puncak sore menghambat 1 kendaraan selama 1 detik. Pengaruh terhadap kecepatan mobil penumpang selama 3 jam puncak pagi menghasilkan temuan kecepatan sebelum kejadian 22.43 km/jam, sesaatkejadian 18.35 km/jam, setelahkejadian 19.1 Km/jam. Sedangkan 3 jam selamapuncak sore menghasilkan temuan kecepatan sebelum kejadian 17.45 km/jam, sesaatkejadian 13.48 km/jam, setelahkejadian 24.07 km/jam. Hal ini menunjukkan penyeberang melalui jalan menjadi penghambat lalulintas di sekitar Jembatan Penyeberangan Orang, di depan SMPN 2 Semarang, di Jalan Brigjend Katamso.

Kata kunci: Pejalan kaki, Kinerja lalu lintas

Penulis: Ridho Wicaksono, Untoro Nugroho, Alfa Narendra. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Gedung E3-E4 KampusSekaran, Gunungpati, Semarang 50229. e-mail: daknean.civil@gmail.com

preview/ download

TIPOLOGI PERUBAHAN FUNGSI LAHAN BANGUNAN DI PERKOTAAN STUDI KASUS PERKEMBANGAN BANGUNAN KOMERSIAL PENGGAL JALAN MONJALI – JALAN ABU BAKAR ALI YOGYAKARTA


Daerah Kotamadya Yogyakarta dan Aglomerasi Kabupaten Sleman yang berbatasan dengan Kotamadya Yogyakarta dalam kurun waktu tiga tahun terakhir sedang pesat-pesatnya terjadi pertumbuhan bangunan komersial seperti hotel, apartemen, ruko, kafe, pusat perbelanjaan, dan lain-lain, yang mendesak permukiman dan/ atau lahan kosong. Penelitian ini menggunakan metode penelitian - eksploratif dengan penelusuran studi literatur dan kebijakan terkait dengan pemanfaatan lahan bangunan komersial di bantaran sungai; survey sebaran pemanfaatan lahan bangunan komersial pada penggal Jalan monjali – Jalan Abu Bakar Ali, yang bersinggungan dengan bantaran sungai Code, yang menjadi bagian belakang bangunan-bangunan besar tersebut. Wilayah penelitian yang diamati adalah sebaran pertumbuhan bangunan komersial di sekitar Sungai Code, yang dibagi menjadi 3 zona: zona utara (jembatan Prof. Ir.KRMT Wreksodiningrat – jembatan Sardjito) 9 titik, zona tengah (jembatan Sardjito – jembatan Amarta) 10 titik, dan zona selatan (jembatan Amarta – jembatan Juminahan) 9 titik. Selanjutnya dilakukan analisa tipologi perubahan fungsi lahan terbuka/permukiman menjadi fungsi lain yang dianalisa dalam tiga tahap (2003, 2010, 2013), dengan beberapa sampling pada tiga zona tersebut. Tipologi perubahan fungsi lahan mempengaruhi perubahan bentuk bangunan dari Blok Tunggal menjadi blok sebagai Tepi atau Blok Medan maupun sebaliknya. Kesimpulan dan saran dari hasil penelitian ini adalah prinsip pengembangan kawasan dengan perubahan fungsi lahan harus berwawasan lingkungan dan humanis dengan permukiman yang sudah ada, karena berpengaruh pada masalah konservasi air, oleh karena itu perlunya legalitas perencanaan dan pembangunan fasilitas, agar tidak merusak kelestarian lingkungan serta memiliki harmoni dengan karakter lingkungan yang ada.

Kata kunci : Tipologi, Permukiman, Bangunan Komersial

Penulis: Hestin Mulyandari.Program Studi Arsitektur, Fakultas Sains & Teknologi, Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY). Jl. Ringroad Utara, Jombor, Sleman, Yogyakarta 55285, email: hestin_jl@yahoo.com

preview/ download

OPTIMALISASI KINERJA SIMPANG BERSINYAL BANGKONG KOTA SEMARANG


Posisi kota Semarang ditinjau dalam skala nasional maupun regional sangat strategis akan menimbulkan dampak pertumbuhan lalu lintas yang bersifat lokal maupun menerus yang cukup besar. Pertumbuhan lalu lintas yang cukup besar menghasilkan arus lalu lintas yang harus dikaji terus menerus sehingga tidak menimbulkan dampak negatif. Arus lalu lintas yang cukup besar tanpa disertai pengaturan pola lalu lintas yang sesuai akan menyebabkan tundaan yang cukup lama dan antrian yang cukup panjang. Pola arus lalu lintas suatu ruas jalan dapat kita lihat dari pola pengaturan simpang yang berada pada ruas tersebut. Parameter yang diteliti meliputi jumlah kendaraan yang keluar dari masing-masing lengan, kondisi saat ini dan waktu sinyalnya. Analisis ini meliputi : arus jenuh dasar, arus lalu lintas, waktu siklus, waktu hijau, kapasitas, derajat kejenuhan dan perilaku lalu lintas. Nilai kapasitas simpang untuk waktu puncak pagi di Simpang Bangkong memiliki nilai sebesar 2171 smp/jam untuk pendekat timur arah pergerakan lurus. Dari nilai derajat kejenuhan pada masing-masing pendekat yang sebagian besar memiliki nilai > 0,800; terutama pada waktu pagi untuk arah timur ke barat dan waktu sore untuk arah barat ke timur. Pada waktu puncak pagi tundaan rata-rata simpang yang terjadi sebesar 96,10 detik/smp. Pada waktu puncak siang dengan tundaan simpang rata-rata sebesar 137,52 detik/smp. Pada waktu puncak sore dengan tundaan rata-rata simpang sebesar 111,77 detik/smp.

Kata kunci : Evaluasi, Optimalisasi, Simpang, Bangkong

Penulis: Eko Nugroho Julianto.Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES). Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

preview/download

SINERGI PENGGUNAAN CALCIUM STEARATE DAN FLY ASH DALAM BETON UNTUK MENAHAN TEKANAN AIR


Struktur beton bertulang yang terletak di daerah korosif dan menahan tekanan air sangat rawan terhadap serangan korosi. Tekanan air yang masuk ke dalam beton melalui kapiler yang terbentuk pada saat proses pengerasan beton hanya bisa dikurangi dengan memperkecil diameter mikro kapiler. Peningkatan sudut kontak antara air dan permukaan beton juga mampu menurunkan infiltrasi air ke dalam beton. Fly ash merupakan material yang mempunyai butir yang lebih kecil dari semen. Setelah fly ash bereaksi dengan semen dan air diameter mikro kapiler yang terbentuk menjadi lebih kecil. Calcium stearate yang digunakan sebagai campuran dalam beton membuat permukaan beton menjadi lebih bersifat hydrophobic. Pengujian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh calcium stearate dan fly ash yaitu uji kuat tekan, absorbsi dan penetrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan calcium stearate dan fly ash secara bersama-sama di dalam beton mampu menurunkan nilai absorbsi dan penetrasi. 
 
Kata kunci : Daerah Korosif, Mikro Kapiler, Sudut Kontak, Absorbsi, Penetrasi.

Penulis: Agus Maryoto. Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED). Jl. Mayjen Soengkono Km 5 Blater, Purbalingga, Telp / Fax : (0281) 6596700.Email : agus_maryoto1971@yahoo.co.id
 

PENGARUH PENAMBAHAN LIMBAH PEMBAKARAN AMPAS TEBU PADA PAVING TERHADAP JENIS SEMEN PPC DAN PCC


Limbah pembakaran ampas tebu adalah hasil samping dari proses pembuatan gula tebu yang terbuat dari ampas tebu yang dibakar sebagai bahan bakar dalam proses pemanasan nira tebu. Limbah pembakaran tersebut kemudian diendapkan dalam air, hasil endapan inilah yang dinamakan limbah pembakaran ampas tebu. Pemanfaatannya digunakan sebagai bahan pengisi dalam pembuatan paving. Tujuan penelitian untuk mencari kuat tekan dan besarnya penyerapan air pada paving. Metode penelitian menggunakan metode eksperimen. Benda uji yang digunakan berupa paving block dengan ukuran tebal 6 cm, lebar 10 cm dan panjang 20 cm yang dibuat dari pasir muntilan, semen jenis PPC dan PCC serta limbah pembakaran ampas tebu dari PTPN IX PG Rendeng Kudus. Variasi benda uji dengan subtitusi Limbah pembakaran ampas tebu terhadap volume pasir sebesar 0%, 10%, 20%, 30%, dan 40%, masing-masing perilaku berjumlah 5 benda uji dari tipe semen PPC dan PCC. FAS yang digunakan sebesar 0,2. Hasil uji kuat tekan paving dengan tipe semen PPC dengan penambahan limbah ampas tebu sebesar 0%, 10% 20%, 30% dan 40% pada umur 28 hari berturut-turut sebesar 184,76 Kg/cm2; 164,46 Kg/cm2; 149,23 Kg/cm2; 118,78 Kg/cm2; dan 101,52 Kg/cm2, dan hasil uji penyerapan air paving berturut-turut sebesar 6,35%; 8,57%; 9,41%; 10,21%; dan 10,33%. Sedangka hasil uji kuat tekan paving dengan tipe semen PCC dengan penambahan limbah ampas tebu sebesar 0%, 10% 20%, 30% dan 40% pada umur 28 hari berturut-turut sebesar 173,60kg/cm2; 162,43kg/cm2; 150,25 kg/cm2; 139,08 kg/cm2; 108,62kg/cm2, dan hasil uji penyerapan air bertutut-turut sebesar 7,90%; 8,93 %; 9,36%; 10,75%. Jadi SPAT yang diambil dari PTPN IX PG Rendeng Kudus, dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengisi dalam proses pembuatan paving dengan semen jenis PPC dan PCC karena tidak ada perbedaan yang signifikan dari hasil ujinya.

Kata kunci : Limbah Pembakaran Ampas Tebu, Kuat Tekan Paving, Serapan Air

Penulis: Endah Kanti Pangestuti. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102
 

SUSUTAN MUKA AIR TANAH PADA LAHAN GAMBUT NON PASANG SURUT AKIBAT PENAMBAHAN SALURAN SUB TERSIER


Penggunaan saluran sub tersier adalah upaya memangkas waktu pengatusan lahan dengan memotong jarak tempuh aliran bawah permukaan pada lahan gambut yang tidak tergenangi pasang surut. Metode pengambilan data dilakukan dengan mengukur tinggi muka air di saluran dan tinggi muka air di lahan. Untuk mensimulasikan saluran sub tersier digunakan saluran di tengah lahan dengan kedalaman 60 cm diatas muka air saluran tersier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan saluran sub tersier memberikan respon positif terhadap pengatusan lahan. Efektivitas tertinggi pengatusan dengan menggunakan saluran sub tersier terjadi sampai 3 hari setelah hujan, sehingga penggunaan saluran sub tersier sangat sesuai untuk tanaman yang rentan terhadap air tanah yang tinggi dalam kurun 3 hari berturut-turut. Sedangkan untuk tanaman yang dapat bertahan pada muka air tinggi sampai 7 hari berturut-turut, penggunaan saluran sub tersier menjadi kurang efektif.

Keyword : gambut, air, subtersier

Penulis: Danang Gunanto . Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura, Pontinak Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Kalimantan Barat 78124. Email: dananggunarto@yahoo.co.id

preview/download

PERSEPSI RISIKO PENGEMBANG PERUMAHAN DI KABUPATEN BANYUMAS


Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsipengembang dan pelaksana terhadap probabilitas dan dampak risiko pengembangan perumahan serta respon terhadap risiko yang terjadi pada usaha pengembang perumahan. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner terhadap 30 responden pengembang dan30 responden pelaksana pada proyek pembangunan perumahan di Kabupaten Banyumas.Analisis dilakukan berdasarkan nilai rata-rata, matriks probabilitas-dampak risiko. Uji Anava (F-test) untuk menguji ada tidaknya perbedaan antara kelompok responden pengembang dan pelaksana. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah: risiko yang mempunyai probabilitas tinggi dan dampak tinggi adalah risiko keuangan serta risiko penjualan, risiko yang jarang terjadi dan mempunyai dampak rendah adalah risiko legalitas dan risiko politik, risiko yang sering terjadi namun mempunyai dampak rendah adalah risiko teknis dan risiko manajemen, risiko yang jarang terjadi namun mempunyai dampak tinggi adalah risiko alam. Risiko penjualan direspon dengan pengendalian melalui peningkatan pemasaran, promosi serta pemilihan lokasi yang tepat. Risiko teknis dan manajemen direspon dengan pengendalian melalui klausul kontrak, mekanisme kontrol dan standar kerja. Risiko legalitas direspon dengan penghindaran risiko melalui ceck dokumen legalitas. Risiko politik direspon dengan penghindaran risiko melalui negosiasi dan sosialisasi. Risiko alam yaitu iklim dan cuaca direspon dengan pengendalian melalui perencanaan, sedangkan bencana alam merupakan risiko murni direspon dengan pengalihan risiko alokasi pihak ketiga seperti asuransi. Risiko keuangan seperti kenaikan harga-harga direspon dengan penerimaan risiko melalui revisi harga penjualan.

Kata Kunci: probabilitas, dampak, risiko, pengembang perumahan

Penulis: Basuki Partamihardja, Staff Pengajar Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto, J.. Raya Beji Karangsalam Purwokerto, Email: basuki.uwk@gmail.com

STUDI PERBANDINGAN GAYA GESER DASAR SEISMIK BERDASARKAN SNI-03-1726-2002 DAN SNI-03-1726-2012 STUDI KASUS STRUKTUR GEDUNG GRAND EDGE SEMARANG


Struktur bangunan gedung Grand Edge Hotel dan Mallyang berlokasi di kota Semarang, direncanakan sebagai suatu struktur gedung beton bertulang yang terdiri dari 13 lapis lantai. Struktur pemikul beban terdiri dari Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus. Pada tahap awal desain, struktur direncanakan terhadap beban gempa sesuai dengan SNI 03-1726-2002 (Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung), yang didasarkan pada gempa rencana dengan periode ulang 500 tahun. Seiring dengan ditetapkannya SNI 03-1726-2012 (Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung) yang didasarkan pada gempa rencana periode ulang 2500 tahun, maka perhitungan gaya gempa harus didesain ulang. Studi ini bertujuan untuk melakukan perbandingan antara kedua tata cara tersebut ditinjau dari perubahan gaya geser dasar seismik serta pemeriksaan terhadap kinerja struktur gedung ditinjau dari simpangan antar lantai yang terjadi.Hasil analisis dinamis yang diperoleh menggunakan program ETABS v.9.0.0 menunjukkan terjadi peningkatan gaya geser dasar seismiksebesar 107 %, dalam arah X maupun dalam arah Y. Sedangkan hasil analisis statik ekivalen SNI 2012 menghasilkan gaya geser dasar seismik yang 2,5 kali lebih besar daripada hasil SNI 2002. Ditinjau dari syarat simpangan antar lantai, struktur gedung tersebut tidak melebihi ketentuan, baik menurut SNI 2002 maupun SNI 2012.

Kata Kunci : beban gempa, gaya dalam, gaya geser dasar seismik, periode ulang

Penulis: Agustinus Agus Setiawan,Universitas Pembangunan Jaya, Tangerang-Banten,Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7 Bintaro Jaya – Tangerang Selatan 15224Email : agustinus@upj.ac.id

preview/download

Selasa, 23 September 2014

ANALSISA STABILITAS STRUKTUR PENAHAN TIMBUNAN TINGGI PADA TEBING (STUDI KASUS PROYEK JALAN TOL SEMARANG - BAWEN PAKET III)


Abstrak: Trace jalan tol yang berdampingan dengan alur sungai dan mempunyai beda tinggi yang cukup besar memunculkan banyak alternatif design struktur. Design struktur portal dan corrugated steel pipe, keduanya merupakan struktur di atas badan sungai dan semacam membentuk terowongan, sedemikian sehingga mendapatkan kemiringan timbunan dari badan jalan tol yang menjaminkestabilan jalan tol tersebut. Kelemahan dari sturktur portal dan corrugated steel pipe, adalah : (1). Lokasi cukup sulit dijangkau oleh alat berat, (2). Potensi terjadi scouring pada dasar pondasi, (3). Lokasi sulit mendapatkan pemindahan alur sungai selama pelaksanaan konstruksi, (4). Diperlukan timbunan badan jalan dalam jumlah yang relatif besar, (5). Menyulitkan pemeliharaan aliran air pada segmen tersebut. Pemilihan struktur Frame Wall System sebagai struktur penahan timbunan tinggi pada tebing dikarenakan memiliki keunggulan dalam kemudahan dan efisiensi waktu pelaksanaan serta tidak mengganggu kinerja sungai yang ada di bawahnya baik saat pelaksanaan pembangunan maupun setelah pengoperasiannya. Faktor keamanan stabilitas lereng sebelum ada konstruksi, setelah ada konstruksi dan akibat gempa 0,2 g semuanya melebihi kriteria design yang disyaratkan. Jumlah dan formasi pondasi bore pile menjamin keamanan struktur, hal ini ditandai dengan kapasistas dukung ijin bore pile yang melebihi dari yang dibutuhkan serta faktor keamanan stabilitas geser struktur melebihi angka 1,5.

Kata kunci : stabilitas, momen, geser, sungai, timbunan

Abstract: Trace highway adjacent to the river channel and has a fairly large height difference gave rise to many alternative design structures. Design portal structure and corrugated steel pipe, both of which are structures over water bodies and forming a sort of tunnel, so that the gain slope of the pile of bodies menjaminkestabilan motorway toll road. The weakness of the portal structures and corrugated steel pipe, are: (1). The location is quite difficult to reach by heavy equipment, (2). Potential for scouring at the base of the foundation, (3). The location is difficult to obtain the removal of river flow during construction, (4). Required embankment of the road in a relatively large amount, (5). Complicate maintenance of water flow on that segment. Selection of Wall System Frame structure as the high pile retaining structure on the cliff due to having advantages in the ease and efficiency of execution time and not interfere with the performance of existing river well below the current implementation of the construction and after the operation. Safety factor of slope stability before construction, after construction and 0.2 g quake exceeds all design criteria are required. The number and formation bore pile foundation structure ensure security, it is characterized by a license bearing bore pile capacity in excess of that required as well as the structure sliding stability safety factor exceeding 1.5.

Keywords: stability, moment, shear, rivers, pile

Penulis:
Hartopo: Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman GUPPI (UNDARIS) Jl. Tentara Pelajar No. 13, Ungaran, Jawa Tengah

EKSPERIMEN RASIO TEBAL DAN TINGGI BALOK BAJA BERLUBANG TERHADAP PENINGKATAN KAPASITAS LENTUR


Abstrak: Meningkatkan kapasitas lentur balok profil IWF tanpa merubah nomor profil dapat dilakukan dengan membuat lubang zig-zag pada badan balok profil IWF dan nenyatukannya kembali sehingga diperoleh rasio tebal dan tinggi badan balok berlubang lebih besar dari benda aslinya yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas lentur. Eksperimen dilakukan berdasarkan beban lentur murni yang diperlakukan pada enam benda uji panjang 3000 mm dari profil IWF 150x75x5x7 berlubang dengan variasi kelangsingan web balok (dg/tw) 39.2; 45.2; 51.2; 57.2; 63.2 dan 69.2. Hasil penelitian dari pengaruh rasio tebal badan dan tinggi balok (dg/tw) bahwa kapasitas lentur rata-rata sebesar 315%, kapasitas lentur riil balok berlubang dapat mencapai tekuk plastis (plastic bukcling), berdasarkan tegangan ijin 167 MPa kapasitas lentur pada lubang lebih besar dari pada kapasitas lentur pada flens,dengan demikian tidak terjadi tegangan kritis pada lubang. Analisis defleksi diperoleh kesimpulan bahwa kapasitas lentur balok berlubang berada diatas kapasitas lentur menurut tegangan ijin pada sayap (167 MPa), dengan demikian kapasitas lentur balok berlubang ditentukan berdasarkan tegangan ijin pada sayap, ada pengaruh signifikan antara kenaikan rasio tinggi dan tebal (dg/tw) balok berlubang pada kapasitas lentur dan peningkatan rasio tinggi dan tebal balok berlubang sebesaar 91,27 %.

Kata kunci: Balok lentur berlubang

Abstract: Increasinge the capacity of the bending beam profile IWF without changing the profile number can be done by making the holes zig-zag on the beam profile of the IWF and nenyatukannya back so thick ratio obtained and the hollow beam height is greater than the original objects are expected to increase the capacity of the floppy. Experiments in pure bending loads upon doing which is treated in the six test objects length 3000 mm of perforated 150x75x5x7 IWF profile with the variation of beam web slimness (dg/tw) 39.2; 45.2; 51.2; 57.2; 63.2 and 69.2. Research results from the influence of the ratio of (dg/tw) that the average bending capacity of 315%, capacity of real perforated beam bending can reach buckling plastis (plastic bukcling), based on the voltage capacity of 167 permit MPa bending on a hole larger than the capacity of the floppy on the flange, thus critical voltage does not occur on the hole. Analysis of the deflection obtained conclusions that are perforated beam bending capacity above the capacity of supple voltage according to the permissions on the wings (167 MPa), thus the capacity of perforated beam bending stresses are determined based on the permissions on the wing, there was significant influence between the increase in the ratio of high and thick (dg/tw) perforated beams on elastic capacity, an increase in the ratio of high and thick hollow beams will increase the torque  91,27%.

Key words: Berforated elastic beam

Penulis:
Henry Apriyatno. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES),
Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229

IDENTIFIKASI DAN PRIORITAS RESIKO PROSES SERTIFIKASI DAN REGISTRASI BADAN USAHA JASA KONSTRUKSI


Abstract: Implementation of the Government Regulation No. 4 of 2010 gave rise to a potential risk in the process of certification and registration for construction enterprises. Therefore it is necessary to perform risk management for the certification and registration process. Stages in the risk management certification and registration process carried out to identify and evaluate potential risks. Risk identification was conducted using semi-structured interviews and qualitative evaluation of risk using a risk matrix scale. Respondents in the identification and analysis of risk ratings in this study are considered to intersect agencies or directly affected by substantial changes in the set in that Regulation no. 4 in 2010.

Keywords : Risk management, certification and registration

Abstrak: Implementasi amanat dari Peraturan Pemerintah No. 4 tahun 2010 memunculkan sejumlah potensi resiko pada proses Sertifikasi dan Registrasi. Oleh karena itu dirasa perlu melakukan manajemen resiko pada proses Sertifikasi dan Registrasi. Tahapan manajemen resiko pada proses Sertifikasi dan Registrasi dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi potensi resiko. Identifikasi resiko dilakukan dengan metode wawancara semi terstruktur dan evaluasi resiko dilakukan secara kualitatif menggunakan skala matrik resiko. Responden dalam proses identifikasi dan analisis peringkat resiko dalam penelitian ini adalah instansi-instansi dianggap bersinggungan atau terkena dampak langsung dari perubahan substansial yang di atur dalam Peraturan Pemerintah No. 4 tahun 2010.

Kata kunci : Manajemen resiko, Sertifikasi dan Registrasi

Penulis:
Arif Wicaksono Affandi dan Andreas F.V Roy. Jurusan Magister Manajemen Proyek Konstruksi, Fakultas Teknik, Universitas Katholik Parahyangan

preview/download

PEMANFAATAN LIMBAH KAYU JATI UNTUK PERKUATAN KAYU SENGON SEBAGAI BALOK LAMINASI


Abstrak: Keterbatasan ukuran kayu struktural semakin mahal dan sulit untuk diperoleh. Oleh karena itu perlu adanya suatu upaya teknologi pengolahan kayu yang mampu mengatasi permasalahan tersebut. Kayu Sengon termasuk dalam jenis kayu yang dapat dengan cepat tumbuh, mudah di dapat tetapi penggunaannya sebagai bahan konstruksi belum optimal.Teknologi yang digunakan guna mendukung kayu sebagai bahan konstruksi adalah dengan laminasi. Laminasi (glulam) adalah gabungan dari satu macam bahan ataupun lebih dimana bahan tersebut dibuat menjadi lapisan-lapisan yang relatif tipis yang direkatkan satu sama lain sehingga membentuk dimensi yang lebih besar. Rekayasa eksperimen dilakukan dengan membuat balok laminasi dari kayu Sengon dan kayu Jati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kuat lentur balok kayu laminasi dalam perkuatan kayu sengon sebagai pengganti balok struktur, dan target penelitian ini untuk mengetahui kuat lentur balok kayu laminasi dalam perkuatan sisi lemah balok, serta secara akademis dapat memberikan wawasan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam pemanfaatan sistem kayu laminasi sebagai balok bangunan rumah tinggal sederhana, dan dari hasil penelitian ini diharapkan sistem laminasi kayu dapat menjadi alternatif dalam memenuhi kebutuhan balok struktur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen yang dilakukan dengan mengadakan penelitian di Laboratorium Bahan dan Laboratorium Kerja Kayu Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengujian kuat lentur kayu laminasi.

Kata Kunci: kayu sengon, kayu jati, laminasi, kuat lentur.

Abstract: The limited size of the structural wood more expensive and difficult to obtain. Therefore there needs to be an effort timber processing technology that is able to overcome these problems. Wood Sengon, including the type of wood that can quickly grow, easy on the can but its use as a construction material has not been used to support optimal.Teknologi wood as a construction material is a laminate. Laminate (glulam) is a combination of one or more kinds of materials in which the material is made ​​into a layer of relatively thin-layer bonded to one another to form a larger dimension. Engineering experiments done by creating beams of laminated wood and rosewood Sengon. The purpose of this study is to determine how much the increase bending strength of laminated wood beams in lieu of retrofitting sengon wood beam structure, and the target of this research to determine the flexural strength of laminated wood beams in weak side reinforcement beams, as well academically may provide insight into the development of science and technology, particularly in the use of the system as a laminated wood beams residential buildings are simple, and the results of this study are expected to wood laminate system can be an alternative in meeting the needs of the beam structure. The method used is an experimental method that is carried out by conducting research in the Laboratory of Wood Materials and Engineering Laboratory Work Faculty of Civil Engineering, State University of Semarang. This type of research is conducted in this study flexural strength testing of laminated wood.

Keywords: sengon wood, teak wood, laminate, flexural strength.

Penulis:
Sri Handayani dan Woro Yuniarti. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES)

STUDI KOMPARASI DEBIT ANDALAN METHODE FLOW CHARACTERISTIC DAN BASIC YEAR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI LUSI


Abstrak: Salah satu faktor penting untuk pengembangan dan pengelolaan sumber daya air adalah analisis debit ketersediaan air. Informasi mengenai ketersediaan air dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, diantaranya untuk menganalisis debit ketersediaan air, terlebih dahulu dilakukan analisis data curah hujan dengan analisis evapotranspirasi potensial. Methode flow characteristic dan Metode Tahun Dasar Perencanaan (Basic Year) adalah langkah dalam analisa debit andalan (Q80). Kedua metode tersebut di comparasi untuk menentukan besaran ketersediaan air yang sesuai dengan keadaan DAS studi ini. Tahun dasar yang dipakai adalah tahun yang data debitnya mempunyai keandalan 80% (Q80), yaitu resiko yang dihadapi karena terjadi debit kurang dari debit andalan sebesar 20 % dari jumlah pengamatan.

Kata kunci : curah hujan, metode mock, flow characteristic, basic year

Abstract: One important factor for development and water resources management is analysis discharge the availability of water.Information about the availability of water can be used for various needs, of them to analyze discharge the availability of water, beforehand kinds of analysese of precipitation data with an analysis of potential evapotranspiration. Flow characteristic Methods and methods of the year the basis of planning ( basic year ) is a step in an analysis discharge andalan (Q80 ).Both of these methods in comparation to determine the amount of water availability in accordance with the state of the watershed of this study. Basic Year which was the year that the reliability of data debit have 80 % ( Q80 ), that is because the risks facing debit of less than discharge mainstay of about 20 % of the number of observations

Keywords: rain precipitation, mock method, flow characteristic, basic year

Penulis:
Bertha Silvia Pratiwi. Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman GUPPI (UNDARIS)


REDIFINISI BESARAN KERJA, DAYA, DAN ENERGI SEBAGAI BESARAN VEKTOR


Abstrak : Hingga sekarang, besaran kerja, daya, dan energi merupakan besaran-besaran yang hanya didefinisikan dalam fisika dan teknik sebagai besaran skalar. Kenyataannya, ketiganya merupakan besaran vektor. Kondisi itu berpotensi membawa kecenderungan pada kesalahan dalam pemahaman dan penerapan terhadap teori-teori tersebut dan semua teori-teori lainnya yang berkaitan. Artikel ini memuat deskripsi singkat tentang masalah tersebut dan menyajikan beberapa deduksi dan bukti empiris sederhana terkait dalam upaya mengklarifikasikan suatu konsep baru untuk menekankan dan menggunakan besaran kerja, daya, dan energi sebagai besaran vektor. Diharapkan dengan konsep baru ini, teori kerja, daya, dan energi akan makin berguna bagi ilmuwan dan praktisi ahli.

Kata kunci : vektor, energi, kerja, daya

Abstract : Until now, work, power, and energy were defined as physical and engineering quantities that only to be use as scalar quantities. Actually, they were vector quantities. That condition could potentially brought to some miss-understood and miss-applicable in using those theories as well as all of their related theories. This article was describing briefly about that problems and giving some related simple deductions and empirical facts in order to clarify the new concept for emphasizing and treating the work, power, and energy as vector quantities. It is hope that with this new concept, the work, power, and energy theories will be more useful for scienceties and practices.

Keywords : vector, energy, work, power

Penulis:
Karuniadi Satrijo Utomo. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES)

OPTIMALISASI PENATAAN FASILITAS PEJALAN KAKI DENGAN EFISIENSI PERGERAKAN BERDASARKAN PADA KARAKTERISTIK PEDESTRIAN


Abstrak: Permasalahan terkait fasilitas pejalan kaki yaitu trotoar yang disediakan sebagian digunakan sebagai tempat berdagang. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik pejalan kaki, ketersediaan fasilitas, besarnya karakteristik pejalan kaki (arus (flow), kecepatan (speed), dan kepadatan (density)), optimalisasi fasilitas yang tersedia untuk mengakomodasi pejalan kaki dan untuk mengetahui cara mengatasi permasalahan yang timbul pada aktifitas pejalan kaki di simpang empat Kartasura pada Jl Ahmad Yani , Kartasura. Obyek penelitian yang diambil adalah pejalan kaki yang menyusuri trotoar dan pejalan kaki yang menyeberang jalan. Data yang diambil terdiri dari: waktu tempuh pejalan kaki, jumlah pejalan kaki, jumlah penyeberang jalan, jumlah kendaraan dan kuisioner pejalan kaki yang melintas pada lokasi survai. Metode analisa yang digunakan untuk mengetahui tingkat pelayanan fasilitas pejalan kaki dengan metode HCM 2000 dan untuk hasil fasilitas penyeberang jalan dengan PV2 dari Department of Transport, Inggris. Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan diketahui bahwa fasilitas pejalan kaki yang telah tersedia di Jl Ahmad Yani , Kartasura belum berfungsi secara efisien. Kemampuan fasilitas pejalan kaki untuk mengakomodasi pejalan kaki yang dinyatakan dalam tingkat pelayanan adalah termasuk A didasarkan pada arus dan ruang pejalan kaki serta didasarkan pada kecepatan pejalan kaki. Berdasarkan hasil kuisioner didapatkan bahwa kondisi optimal yang diinginkan masyarakat dan pejalan kaki dengan menggunakan zebra cross dengan lampu lalu lintas/pelican crossing.

Kata kunci : fasilitas pejalan kaki, tingkat pelayanan, karakteristik

Abstract: Problems related to the sidewalks and pedestrian facilities are provided in part used as a place of trade. The purpose of the study is to determine the characteristics of pedestrians, availability of facilities, the amount of pedestrian characteristics (flow (flow), velocity (speed), and density (density)), optimazion of facilities available to accommodate pedestrians and to determine how to resolve problems arise in pedestrian activity at the intersection of four Kartasura on Jl Ahmad Yani, Kartasura. Research object is taken along the pedestrian sidewalk and pedestrian crossing the road. Data taken consists of: pedestrian travel time, number of pedestrians, pedestrian number, the number of vehicles and pedestrians passing questionnaires at survey sites. The analytical methods used to determine the level of pedestrian facilities services with HCM method 2000 and for the results of the PV2 pedestrian facilities of the Department of Transport, UK. Based on the analysis and discussion in mind that pedestrian facilities are already available on Jl Ahmad Yani, Kartasura not function efficiently. The ability of the facility to accommodate pedestrian pedestrian expressed in the level of service is included based on the current and A pedestrian space and is based on the speed of pedestrians. Based on the results of the questionnaire showed that the optimal conditions are desired by the community and the use of pedestrian crosswalk with traffic lights / pelican crossing.

Keywords : Pedestrian facilities, level of service, characteristics

Penulis:
Harwidyo Eko Prasetyo. Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman GUPPI (UNDARIS)

POTENTIAL RESOURCES IN CONSERVATION UNIVERSITY FOR GREEN INFRASTRUCTURE DEVELOPMENT


Abstract : Semarang State University (UNNES) as part of a larger community has initiated the positive development for the surrounding environment by establishing itself as a conservation university. The university has many potentials resources that can be developed into initial model of Green Infrastructure in university scale. This paper aims to present the supports, burdens and limitations of GI implementation in the university’s area through identifying resources that university have. Supports of the university include natural resources, man-made resources, institution and programs. Burdens and limitations explain the challenge for the university to implement and securing GI as an ongoing commitment and goal. Methodology used is primary observation and documents analysis. The analysis shows that the application of GI in the university is very possible regarding its natural and man-made resource supports as well as institutional and the university programs. Natural Resources supports are through the existence of birds and butterflies in the area of UNNES and some of them are classified as endangered species. The university is located among two kinds of important natural landscapes; there is valley with dense vegetation and river banks with steep cliffs. Those landscapes are potential for GI in UNNES. Man Made resources include water conservation zone, biodiversity conservation facilities and green spaces inside the campus. Supports from institution and programs are abundant because the vision of UNNES as a conservation university. GI in UNNES should include natural landscapes outside the area of campus to make a possible connection to create network required for GI system.

Keywords: Green Infrastructure, Conservation University, Supports, Limitations

Penulis:
Lulut Indrianingrum. Civil Engineering Department, Architecture Engineering Program, Engineering Faculty. State University of Semarang, Indonesia

PENGARUH RONGGA PADA DINDING BATAKO TERHADAP SUHU RUANG DALAM


Abstrak: Bangunan gedung merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, terutama untuk fungsi hunian. Pada era sekitar tahun 1980, di indonesia diperkenalkan bahan bangunan yang diharapkan dapat membantu untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia tersebut, yaitu batako. Batako tersebut merupakan bahan bangunan yang relatif ringan dengan memberikan rongga di tengahnya, sehingga dapat mengurangi biaya pembangunan secara keseluruhan. Indonesia yang memiliki iklim tropis lembab menjadikan suhu udara cukup tinggi. Hal tersebut mempengaruhi kenyamanan termal ruang dalam bangunan. Penggunaan dinding batako memiliki akibat meningkatnya suhu udara di dalam ruang yang dikelilinginya terutama pada sore hingga malam hari. Hipotesis yang muncul adalah keberadaan rongga di dalam dinding menyimpan termal dan meningkatkan temperatur ruang dalam. Kajian ini akan dilakukan dengan pengukuran prototipe untuk mendapatkan data dan dilakukan analisa untuk mendapatkan komposisi yang ideal. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah perlakuan terhadap rongga di dalam material pembentuk dinding, sedangkan variabel tetapnya adalah temperatur ruang dalam. Pengkajian ini mendapatkan hasil bahwa material batako yang solid mampu mendapatkan temperatur udara lebih rendah di ruang dalam dibandingkan batako normal.

Kata kunci : dinding, batako, rongga, suhu, ruang dalam

Abstract: Building is one of the basic human needs , especially for residential functions . In the era around 1980 , indonesia introduced in building materials which is expected to help to meet the basic human needs , namely brick . The building block is relatively lightweight building materials by providing a cavity in the middle , so as to reduce the overall development costs . Indonesia has a humid tropical climate makes the air temperature is high enough . This affects the thermal comfort in the building space . The use of brick walls have due to rising air temperature in the chamber that surrounds mainly in the afternoon until evening . The hypothesis that emerges is the presence of cavities in the walls of the thermal store and increase the temperature in the room . This study will be conducted with the prototype measurements to obtain the data and analysis to obtain the ideal composition . The independent variable in this study is the treatment of cavities in the wall -forming material , while the permanent variable is the temperature in the room . This assessment matches that brick solid is able to get a lower air temperature in the room in comparison to normal brick.

Keywords: walls, brick, cavity, temperature, room

Penulis:
Mochamad Hilmy dan Indrayadi. Program Studi Arsitektur, Jurusan Teknik Arsitektur Politeknik Negeri Pontianak

STUDI PENANGANAN TUNDAAN PERGERAKAN DI PERSIMPANGAN EMPAT BANARAN-SEKARAN


Abstrak: Di Simpang Empat Lengan Banaran – Sekaran, peningkatan volume dominan terjadi sebelum jam 07.00 WIB, karena kegiatan perkuliahan jam pertama adalah jam 07.00 WIB, dan penurunan volume dominan terjadi setelah jam 12.00 WIB. Pola asal-tujuan menunjukkan pergerakan didominasi pergerakan Utara-Selatan, dengan asal pergerakan dominan dari Selatan. Hanya ada satu jam puncak, 12.15 – 13.15.
Dari hasil perhitungan berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia, alternatif pertama, yaitu alternatif dengan kondisi saat ini (do nothing), menghasilkan derajat kejenuhan (Degree of Saturation=DS) sebesar 0,74, mendekati DS jenuh yang sebesar 0,75. Perhitungan alternatif kedua, berupa perbaikan geometrik, pemberian rambu dan marka jalan hanya mampu menurunkan DS sebesar 0,06 menjadi 0,68. Alternatif ketiga sebagai alternatif terpilih, berupa jalinan bundaran, menghasilkan Derajat kejenuhan bagian jalinan arah U-T sebesar 0,25, T-S 0,25, S-B 0,24, B-U 0,27.

Kata kunci: Pola Pergerakan, Asal – Tujuan, Derajat Kejenuhan


Abstract: At Banaran, Sekaran intersection. Morning peak hour occurs before 7am, since the first classes begins at 7am. Generally, traffic flows decline after 12am. On site Origin-Destination pattern shows that south to north streams are dominant. There was single peak hour, 12:15-13:15. There are three alternatives based on Manual Kapasitas Jalan Indonesia (Indonesia Highway Capacity Manual). Firstly do nothing, secondly geometric enhancement and the latest is building a roundabout. First alternative will drive into saturated intersection. Whereas its degree of saturation will became 0,74 which closed to 0,75 saturated value. Second alternative is relative small impact in DS, reducing only 0,06 into 0,68. Meanwhile, selected roundabout alternative is reduce DS into mentioned directionN-E 0,25, E-S 0,25, S-W 0,24, W-N 0,27.

Key words: Flows, Origin Destination, Degree of Saturation

Penulis:
Alfa Narendra dan Agung Budiwirawan. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES)

preview/download