PESAN JURNAL KLIK SINI
....................................................................................................................................

Rabu, 18 Juli 2012

PENGARUH WARNA TERHADAP KAMAR TIDUR ANAK


Oleh : RM. Bambang Setyohadi KP
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : Efek warna sangat berpengaruh bagi psikologi penghuni kamar, karena kamar tidur adalah ruang yang sangat pribadi. Setiap penghuni kamar memilki karakter, gaya hidup, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Warna pun tergantung pada usia penghuni kamar. Warna juga mempunyai karakter dan kepribadian yang menjadikannya berbeda satu sama yang lain. Warna dapat menimbulkan kesan tertentu bahkan dapat mempengaruhi perasaan manusia. Masa anak-anak sangat panjang dalam rentang kehidupannya, karena pada masa tersebut seseorang telah mengenal benda dan warna yang belum pernah diketahui. Pada masa tersebut seseorang juga akan belajar tentang kehidupan. Warna merupakan salah satu media untuk mengembangkan imajinasi khususnya anak-anak yang masih pada masa perkembangan. Kamar tidur anak yang ideal adalah kamar yang aman, sehat, serta dapat memacu kreatifitas dan mengembangkan imajinasi anak. Bagaimana memilih perabot dan pernik interior yang tepat, menata mebel, dan memanfaatkan pencahayaan yang sesuai dengan usia anak sehingga anak nyaman berada di kamarnya sehingga tercipta kamar anak yang memikat, nyaman serta dapat memenuhi beberapa segi seperti fungsi kamar, kesehatan, keamanan, psikologis, maupun segi-segi lain. Untuk kamar tidur anak usia 6-12 tahun cenderung menggunakan warna natural dan warna “berat”. Warna tersebut menghasilkan karakter suasana ceria dan segar serta dapat mengembangkan daya imajinasi mereka secara optimal.

Kata kunci : warna, kamar tidur, psikologis, anak

Abstract : Stock colors are very influential to the psychology of room occupants, because the bedroom is a very personal space. Each resident room has character, lifestyle, and needs vary. Color also depends on the age of room occupants. Color also has character and personality that makes it different from each other. Color can create a certain impression can even affect human feelings. Childhood is very long in the span of his life, because at that time someone has to know the objects and colors that have never known. During this period a person will also learn about life. Color is one of the media to develop the imagination, especially the children who are still in the development. The ideal child's bedroom is a room safe, healthy, and can stimulate creativity and develop a child's imagination. How to choose furniture and interior knacks appropriate, arrange furniture, and make use of lighting in accordance with the age of the child so the child comfortable in his room so as to create a child's room a charming, comfortable and able to meet some aspects such as function rooms, health, safety, psychological, and other aspects. For the bedroom children aged 6-12 years tend to use natural color and color of "heavy. " Colors are cheerful atmosphere and character produces fresh and creative imaginations to develop their full potential.

Keywords: color, bedroom, psychological, child

EKSISTENSI TRANSPORTASI LAUT PADA PELAYARAN RAKYAT


Oleh : Andy Wahyu Hermanto
Staf Pengajar Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang Jl. Singosari No. 2A Semarang, 50242 E -mail : andy120605@yahoo.co.id

Abstrak : Pelayaran umum adalah bagian sebuah sistem transportasi laut nasional yang menggunakan sarana Kapal Layar Motor (KLM), Perahu Layar Motor (PLM), dan memainkan peran yang menghubungkan pelabuhan utama, sekunder dan tersier serta pengumpan pelabuhan regional dan lokal . Pengiriman bisnis manajemen kekerabatan dengan orang yang menggunakan sistem organisasi sederhana dan tidak formal, operasi armada pelayaran orang tidak tergantung pada infrastruktur pelabuhan dan dapat mencapai pelabuhan terpencil yang sulit dijangkau oleh pelayaran nasional. Pencapaian produktivitas sekitar 18% sampai 20% dari total angkutan domestik (tidak termasuk kargo curah cair/bulk/khusus). Pendekatan dan metode yang digunakan untuk mengungkap tingkat kinerja operasional dan aspek kelayakan teknis dan peran pelayaran nasional rakyat adalah prototipe pemantauan studi lapangan KLMP 360 GRT mengenai kinerja operasional di pelabuhan dan pada saat berlayar. Keberadaan orang pengiriman transportasi laut mendukung pengembangan peran sentral kegiatan ekonomi regional dan lokal, dan tampaknya terlalu dipengaruhi oleh resesi ekonomi. Kondisi Teknis (stabilitas, sistem dan konstruksi) umumnya dianggap baik dan memiliki tingkat kelayakan yang tinggi untuk berlayar dan memenuhi standar Organisasi Maritim Internasional (IMO) dan ISO 6954 pada kriteria getaran konstruksi.

Kata kunci: bisnis pelayaran, kinerja operasional, armada prototipe.

Abstract : Public sailing is a sub-national marine transportation system that uses a means of motor sailing boat (KLM), motor sailboat (PLM), and plays a role linking the major ports, secondary and tertiary as well as regional and local feeder port. Shipping business management kinship with people using a simple organizational system and not formal, operating a fleet of cruise people did not depend on port infrastructure and can reach remote ports that are difficult to reach by the national shipping. Achievement of productivity about 18% to 20% of total domestic freight (excluding liquid bulk cargo/bulk/special). Approaches and methods used to uncover the extent of the performance of operational feasibility and technical aspects and the role of people's national shipping is a prototype monitoring field study KLMP 360 GRT on operational performance in the harbor and at the time of sailing. The existence of sea transport shipping people support the development of the central role of regional and local economic activity, and appears to be too influenced by the economic recession. Technical conditions (stability, systems and construction) is generally considered good and have a high level of seaworthiness to sail and meet the standards of the International Maritime Organization (IMO) and ISO 6954 on construction vibration criteria.

Key words : Sailing Buissines, operational performance, the prototype fleet.

EVALUASI MODEL PEMELIHARAAN PERKERASAN JALAN TOL SEMARANG-SOLO


Oleh : Sriwidodo
Teknik Sipil Akademi Teknik Wacana Manunggal (ATWM) Semarang Ketileng Raya No.6, Ph. (024) 8315933, Semarang, 50249 . 081 5651 6247, E-mail : widho_kpts6@yahoo.co.id

Abstrak : Mempertahankan perkerasan jalan perlu sepenuhnya diprogram untuk mendapatkan jaringan jalan dengan kondisi baik dan biaya dioptimalkan. Manajemen Pemeliharaan Sistem (MMS) merupakan sistem yang diciptakan dan dikembangkan terutama untuk manajemen pemeliharaan jalan raya. MMS membagi sistem mantenance jalan raya menjadi dua proses, proses perawatan rutinitas terprogram dan proses perkerasan (waktunya pemeliharaan dan meningkat). Makalah ini mengevaluasi pemanfaatan sistem MMS dalam proses proses pemeliharaan perkerasan, dengan mengambil studi kasus Semarang-Solo Highway. Kondisi nilai pada sistem MMS merupakan kombinasi dari harga struktural dan fungsional, dengan nilai fungsional kemudian dirasionalisasikan untuk mendapatkan nilai kondisi pertama untuk tahun kelima. Sistem MMS bisa menawarkan alternatif program pemeliharaan dan dampak pemilihan alternatif. Makalah ini diperiksa dalam tiga skenario pemeliharaan. Dalam skenario pertama, pemeliharaan yang dilakukan oleh kebutuhan waktu yang sesuai, skenario kedua dengan memberikan pemeliharaan pada tahun pertama, pemeliharaan rutinitas yang dilakukan di tahun kedua, ketiga dan kelima dan pemeliharaan juga waktunya di tahun keempat, sedangkan pada skenario ketiga pemeliharaan dilakukan di setiap tahun. Hasil optimal diperoleh dari skenario pertama.

Kata kunci: pemeliharaan jalan, lalu lintas, perkerasan jalan raya.

Abstract : Maintaining road pavement need to be fully programmed to get the road network with a good condition and optimized cost. Maintenance Management System (MMS) represent a system created and developed especially for maintenance management of highway. MMS system divides the highway mantenance into two process, rutine maintenance programmed process and pavemet process (timed maintenance and increasng). This paper was evaluate the utilizing of MMS system in the process of pavement maintenance process, by taking case study of Semarang-Solo Highway. Condition value on MMS system was a combination of structural and functional pricing, by rationalized functinal value to get condition value of first to fifth year. MMS system could offer alternative maintenance program and impact of the alternative selection. This paper was exemined in three maintenance scenario. In the first scenario, maintenance conducted by the appropriate timed need, second scenario by giveing the maintenance in first year, rutine maintenance conducted in second, third and fifth year and also timed maintenance in fourth year, while in the third scenario, maintenance conducted in every year. The optimal result obtained from the first scenario.

Keywords : road maintenance, traffic, highway pavement.

KUALITAS BATU BATA MERAH DENGAN PENAMBAHAN SERBUK GERGAJI


Oleh : Sri Handayani
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229

Abstrak : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang akan menguji kualitas batu bata merah dengan penambahan campuran limbah serbuk gergaji. Serbuk gergaji merupakan limbah dari penggergajian kayu yang biasa dihasilkan dari alat gergaji baik gergaji manual maupun gergaji mesin. Variabel dalam penelitian ini adalah standar kualitas batu bata merah yang meliputi pandangan luar (bentuk, warna), berat, ukuran, kuat tekan, kandungan kadar garam dan penyerapan air dan bobot isi. Bahan dasar diambil dari tanah lahan kebun pertanian/kebun yang kurang produktif di Desa Karanganyar Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan serbuk gergaji 10% tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan batu bata tanpa penambahan serbuk gergaji (0%). Demikian pula dari berat batu bata, campuran 10% akan menghasilkan berat batu bata yang lebih ringan. Ditinjau dari keretakan, campuran 10% tidak terjadi keretakan (0%) lebih menguntungkan dibandingkan dengan campuran 0% diperoleh keretakan sebesar 30%. Implikasi dari hasil ini adalah penambahan serbuk gergaji 10% akan menghasilkan batu bata yang lebih ringan beratnya, dan mampu meningkatkan produktifitas karena keretakannya 0% tetapi akan memberikan kekuatan yang tidak berbeda secara signifikan dengan tanpa campuran. Oleh karena itu serbuk gergaji sebagai limbah penggergajian kayu dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran dalam pembuatan batu bata dengan prosentase penambahan 10%.

Kata kunci : kualitas batu bata, tanah liat, serbuk gergaji

Abstract : This study is an experiment that will test the quality of red brick with the addition of a mixture of sawdust waste. Sawdust is a waste of a normal sawmills saws tool generated from both manual and mechanical chainsaw. The variable in this study are the standard of quality red bricks covering the outside view (shape, color), weight, size, compressive strength, content of salt and water absorption and weight of the contents. Basic materials taken from the agricultural land/garden which is less productive in the Village of Karanganyar District Adipala Regency of Cilacap. The results showed that the addition of sawdust, 10% showed no significant differences with bricks without the addition of sawdust (0%). Similarly, the heavy brick, a mixture of 10% will result in heavy brick lighter. Judging from the rift, a mixture of 10% does not happen cracks (0%) is more advantageous than a mixture of 0% obtained by cracking of 30%. The implications of this result is the addition of 10% sawdust bricks which will result in lighter weight, and can improve productivity because its rift is 0% but will give strength did not differ significantly with no mix. Therefore sawdust as waste sawmills can be used as an ingredient in the manufacture of bricks mixed with a percentage increase of 10%.

Key words: brick quality, clay, sawdust

ANALISIS GERUSAN LOKAL DI SEKITAR SEMI-CIRCULAR-END ABUTMENT DENGAN PERLINDUNGAN GROUNDSILL PADA FROUD NUMBER (Fr) 0,2


Oleh : Sucipto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E, Kampus Sekaran Semarang 50229, Telp/fax. (024) 8508102

Abstrak : Gerusan lokal dapat terjadi karena perubahan pola aliran untuk mencapai kesetimbangan akibat pengaruh morfologi sungai (dapat berupa tikungan atau bagian penyempitan alur sungai) atau terhalang oleh suatu konstruksi bangunan air. Dalam mempelajari proses perkembangan gerusan dan sebagai bahan pertimbanngan dalam perencanaan dan pembangunan jembatan serta pemeliharaan, maka dilakukan penelitian gerusan lokal di sekitar abutmen jembatan yang bertujuan untuk mempelajari proses penggerusan, pengaruh material dasar, perlindungan groundsill, froud number dan parameter aliran lainnya terhadap pola gerusan dan kedalaman gerusan serta evaluasi data hasil penelitian terhadap persamaan empiris. Penelitian pola gerusan lokal di sekitar abutmen ini dilakukan pada clear-water-scour. Kedalaman gerusan diamati pada selang waktu tertentu selama maksimal 180 menit untuk setiap percobaan, digunakan peralatan Recirculating sediment flume yang dilengkapi rigid bed dan movable bed serta abutmen dari bahan kayu. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa material dasar serta parameter aliran untuk kondisi aliran sub kritik dengan fr= 0,2 berpengaruh terhadap kedalaman gerusan serta pola gerusan yang terjadi. Penempatan groundsill sebagai pengendali gerusan sangat berpengaruh dalam mereduksi gerusan yang terjadi. Reduksi kedalaman gerusan yang terjadi pada material dasar pasir berdiameter maksimum 2 mm pada jarak X1(B)= 31,25%, dan X2 (2B)= 58,33%. Pada material dasar pasir berdiameter maksimum 1 mm reduksi kedalaman gerusan hanya terjadi pad jarak X2 (2B)= 48,78%. Jarak penempatan groundsill yang baik dalam mereduksi kedalaman gerusan adalah 2B-4B.

Kata kunci: gerusan lokal, abutment, groundsill, froud number

Abstract : Local scouring may occur due to changes in flow patterns to reach equilibrium due to the influence of river morphology (can be bend or narrowing the river channel) or blocked by a hydraulic structur. In studying the process of development and as an ingredient pertimbanngan scour in the planning and bridge construction and maintenance, then conducted research on local scour around bridge abutmen which aims to study the milling process, the influence of basic material, protection groundsill, froud number and other flow parameters on the pattern of scour and scour depth and the evaluation of research data to empirical equations. The study of local scour patterns around abutmen is done in clear-water-Scour. The depth of scour observed at specified intervals for a maximum of 180 minutes for each experiment, use equipment that is equipped Recirculating flume sediment bed and movable rigid bed and abutmen of wood. The result showed that the basic material and flow parameters for sub-critical flow conditions with fr = 0.2 affected the depth of scour and scour patterns that occur. Placement groundsill as controlling scour very influential in reducing the scour that occurred. Reduction of the depth of scour that occurs in sand base material a maximum diameter of 2 mm at a distance X1 (B) = 31.25%, and X2 (2B) = 58.33%. On the basis of material maximum diameter of 1 mm sand depth of scour reduction occurs only pad distance X2 (2B) = 48.78%. Distance groundsill good placement in reducing the depth of scour is a 2B-4B.

Keywords: local mashed, abutment, groundsill, froud number